Welcome to our website !

JAKARTA, 31 Mei 2018 - Peraturan Presiden baru mengenai penerapan teknologi termal untuk mengurangi volume sampah di beberapa kota tidak realistis, mahal dan berpotensi gagal. Rencana ini, baik dari segi pembiayaan maupun teknis, berlawanan dengan prinsip pengelolaan sampah sebagai upaya melestarikan sumber daya material secara berkelanjutan. Dampak terhadap kesehatan dan keberlanjutan operasional jangka panjang akan menjadi beban Pemerintah Daerah dan masyarakat.

Dua tahun yang lalu, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 18/2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya dan Kota Makassar, yang kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA) atas permohonan sekelompok LSM dan individu.[1] Ironisnya, dalam waktu kurun waktu 2 tahun, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 35/2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Sekilas, tidak ada perbedaan signifikan dari judul kedua Perpres kecuali penggunaan kata “ramah lingkungan”.

“Sayangnya, Perpres baru No. 35/2018 hanya berubah wajah dan, yang lebih fatal, diberi judul berbasis teknologi ramah lingkungan dengan kriteria yang tidak jelas,” kata Yuyun Ismawati, Senior Advisor BaliFokus dan AZWI.  “Biaya investasi dan operasional yang tinggi, berpotensi menciptakan dampak buruk terhadap kesehatan dan lingkungan. Hal ini diperparah dengan studi kelayakan yang dipaksakan dan tidak ada kejelasan studi AMDAL sebelum proyek dimulai, lemahnya pemantauan dan penegakan hukum karena kurangnya kapasitas dan infrastruktur lab yang memadai.”

“Walaupun teknologi yang didorong Peraturan Presiden ini, dibuat lebih umum menjadi teknologi ramah lingkungan, kenyataannya teknologi yang dipromosikan tetap teknologi termal yang tidak berkelanjutan. Kelayakan proyek PLTSa yang dibangun masih dipertanyakan karena sampai saat ini belum ada satupun PLTSa termal yang berhasil didorong oleh pemerintah untuk menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) dengan PLN,” kata Dwi Sawung, Pengkampanye Perkotaan dan Energi dari WALHI.

Selain permohonan uji materil, beberapa LSM yang sama dan juga tergabung dalam Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) telah beberapa kali mengingatkan bahwa pengolahan sampah dengan teknologi termal seperti insinerator, gasifikasi dan pirolisis untuk sampah Indonesia tidak selaras dengan asas pembangunan berkelanjutan dan arah kebijakan pengelolaan sampah yang sudah digariskan pada UU 18 2008.[2],[3],[4]

Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) meminta pemerintah untuk tetap fokus melaksanakan mandat-mandat utama dari UU No. 18/2008 dan Peraturan Pemerintah No. 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga. Pemerintah juga tetap harus menerapkan prinsip -prinsip pembangunan berkelanjutan dan melakukan upaya-upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang tertuang dalam Perpres No. 59/2017.

“Dengan diundangkannya Perpres baru tentang PLTSa ini nampaknya pemerintah masih gagal keluar dari paradigma pengelolaan sampah lama: bertumpu pada pemrosesan akhir dan sistem ekonomi material yang linier,” kata David Sutasurya dari YPBB. “Perpres baru ini seolah merupakan upaya instan dari Pemerintah untuk mencapai target penanganan sampah tahun 2025 sebesar 70% yang  diamanatkan dalam Peraturan Presiden No. 97/2017, tanpa mempertimbangkan arah kebijakan yang lebih mendasar”.

Pemerintah cenderung abai terhadap risiko kesehatan dan finansial, yang dapat dihadapi masyarakat dan Pemerintah Daerah,  dengan mengasumsikan bahwa operasi insinerator akan berjalan mulus tanpa gagal operasi. Hal ini terlihat dari amanat dalam Perpres No. 35/2018 yang merefleksikan tidak adanya penjaminan keselamatan, dan kesehatan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan pada persyaratan minimum dari dokumen pra-studi kelayakan.

Dapat terlihat dari dua PLTSa termal yang sedang dalam tahap pembangunan di Kota Bekasi dan Surakarta yang berjalan tanpa adanya perencanaan yang matang. Juga satu PLTSa di Jakarta masih belum jelas status pembangunannya.

Oleh karena itu, AZWI mengajak semua pihak untuk awas terhadap kecenderungan terjadinya pemaksaan proyek insinerator yang sedang berjalan, diantaranya:
  1. Proyek-proyek PLTSa tetap dipaksakan berjalan dan PLN seolah ‘dipaksa’ untuk membeli listrik dari PLTSa dengan harga mahal walaupun Pulau Jawa dan Bali saat ini berada dalam kondisi kelebihan suplai energi listrik.
  2. Pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sudah mengingatkan bahwa listrik dari PLTSa tidak ekonomis. Kalaupun PLTSa tetap dijalankan, perannya lebih sebagai unit pemrosesan akhir dengan teknologi insinerator (pembakar) sampah. Dengan demikian konsep pembangkitan listrik dalam Peraturan Presiden ini tampak sebagai konsep yang dipaksakan.
  3. Pemerintah Daerah diminta untuk membayar tipping fee pengelolaan sampah yang sangat mahal. Dengan kebutuhan kontrak yang bersifat jangka panjang, biaya tipping fee yang mahal dapat menjadi jebakan fiskal jangka panjang bagi Pemerintah Daerah. Faktanya, pemenuhan pembiayaan kegiatan pengangkutan sampah pun masih sulit untuk dipenuhi Pemerintah Daerah. Seharusnya, Pemerintah Daerah memprioritaskan pembiayaan untuk mencukupi biaya kegiatan penanganan seperti pemilahan, pengumpulan dan pengolahan sampah (juga pembiayaan untuk aspek pengurangan sampah). Dengan demikian, secara praktis proyek PLTSa tidak menguntungkan Pemerintah Daerah dan menguras anggaran yang seharusnya disediakan untuk kebutuhan penanganan dan pengurangan sampah yang lebih mendasar. Kondisi pembiayaan ini berlaku sama baik pada kota kecil maupun kota besar yang menjadi sasaran dari Peraturan Presiden ini.
  4. Sementara berbagai turunan regulasi UU No. 18/2008 begitu lambat dikeluarkan oleh Pemerintah (salah satunya: peraturan pelaksana tentang pengelolaan sampah spesifik). Namun, dengan begitu cepatnya, Pemerintah menerbitkan regulasi terkait proyek percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik. Mirisnya, ekstraksi energi dari sampah seharusnya merupakan upaya terakhir dalam hierarki pengelolaan sampah di mana pembatasan timbulan, guna ulang dan daur ulang sampah harus lebih diprioritaskan.
  5. Ironisnya, walaupun judul Perpres No. 35/2018 ini ‘menekankan’ PLTSa yang ramah lingkungan, masyarakat justru dirugikan dengan tidak adanya penjaminan keselamatan, dan kesehatan serta keberlanjutan lingkungan dalam amanat Perpres ini. Fokus dari Perpres No. 35/2018 semata-mata hanya berkisar pada penghasilan energi dan keuntungan ekonomi.
    1. Studi independen di berbagai negara maju sekalipun menunjukan bahwa pada umumnya teknologi termal apapun tetap menghasilkan dioksin dalam jumlah cukup siginfikan.  Pembakaran yang tidak sempurna pada sampah akan menghasilkan senyawa kimia berbahaya yang bersifat karsinogenik, yaitu dioksin. Dioksin bersifat persisten dan terakumulasi secara biologi, dan tersebar di lingkungan dalam konsentrasi yang rendah. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek lainnya terhadap binatang dan manusia.  Sedangkan, dalam Lampiran Peraturan Menteri LHK No. 70 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Emisi Usaha dan/atau  Kegiatan Pengelolaan Sampah Secara Termal, pemeriksaan dioksin hanya diwajibkan dilakukan lima tahun sekali karena tidak ada fasilitas laboratorium yang memadai di Indonesia.
    2. Lampiran III Peraturan Menteri LHK No. 19 Tahun 2017 tentang Baku Mutu Usaha dan/atau Industri Semen, hanya mewajibkan pemeriksaan dioksin dilakukan empat tahun sekali pada industri semen yang menggunakan teknologi RDF dari bahan sampah rumah tangga atau yang sejenis.  Standar lingkungan yang ditetapkan di Indonesia jauh lebih rendah[1]  dan longgar dari standar yang berlaku secara internasional. Dengan demikian kita patut bertanya, apakah aturan baku mutu emisi tersebut dibuat untuk melindungi masyarakat atau sekedar melegalkan proyek ini.
    3. Sekitar 70% hasil pembakaran sampah akan berupa fly ash dan bottom ash (FABA) yang bersifat B3 karena mengandung dioxins dan furans (kimia UPOPs). Abu yang dihasilkan ini harus dikelola di TPA B3. Setiap kota yang akan membangun PLTSa wajib membangun TPA B3 juga yang harus dikelola secara profesional dan berbiaya tinggi.
    4. Penggunaan batubara kualitas rendah (low grade coal) untuk membakar sampah  kota-kota Indonesia yang bernilai kalor rendah, berpotensi meningkatkan emisi merkuri ke udara. PLTSa yang akan dibangun berpotensi menjadi PLTU batubara dengan sampah didalamnya.

AZWI menyayangkan bahwa dalam proses implementasinya, Perpres ini ‘mampu’ berkompromi dengan teknologi-teknologi tidak ramah lingkungan dalam hal ini berbagai jenis teknologi termal. Kenyataannya, teknologi yang sedang dikaji oleh pemerintah saat ini di kota-kota yang menjadi sasaran, adalah teknologi termal.

Pemaksaan proyek-proyek insinerator ini dapat mendorong terjadinya masalah jangka panjang bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat. Kontrak proyek insinerator bersifat jangka panjang, di mana Pemerintah Daerah akan terikat selama 20 tahun atau lebih. Konsekuensinya, persoalan pembiayaan dan lingkungan yang dihasilkan dari insinerator akan menjadi masalah baru yang berlarut-larut bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah.

Kontak media:

Dwi Sawung +639994120029
David Sutasurya +6281320176832
Yuyun Ismawati +447583768707 (Whatsapp)



[1] Putusan MAHKAMAH AGUNG Nomor 27 P/HUM/2016 Tahun 2016 Aisya Aldila, dkk vs Presiden RI; https://putusan.mahkamahagung.go.id/putusan/c3e1b13d96e72827fee2b3753dcf5e45
[2] Siaran Pers AZWI 3 Juni 2016: “Masyarakat Sipil Indonesia Ajukan Uji Materiil Perpres Percepatan PLTSa” https://docs.wixstatic.com/ugd/bdc2b3_18d0aa3d8d97420cb70cbe115414ca39.pdf
[3] Siaran Pers AZWI 27 januari 2017: “Koalisi Tegaskan Pengelolaan Sampah Nasional Harus Holistik” https://docs.wixstatic.com/ugd/bdc2b3_88c323281cf540b79827a233002b659f.pdf
[4] Siaran Pers AZWI 9 Agustus 2017: “Tanggapan masyarakat sipil terhadap Proyek Uji-coba Jalan Aspal-Plastik” https://docs.wixstatic.com/ugd/bdc2b3_bdfc2f26fbc6495082365fff9d433c7e.pdf
Hampir 25 tahun Perkumpulan YPBB bersama anda!

Perkumpulan YPBB adalah organisasi non-profit, yang selama hampir 25 tahun telah mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat mencapai kualitas hidup umat manusia yang tinggi, untuk generasi sekarang dan terlebih untuk anak cucu kita melalui gaya hidup selaras dengan alam. YPBB mempromosikan inovasi-inovasi terbaik pola hidup organis dan membantu masyarakat mengadopsi pola hidup tersebut secara efektif melalui program-program edukasi, dukungan kelompok, pengorganisasian masyarakat, serta dukungan teknologi dan infrastruktur.  Saat ini YPBB telah dikenal dengan kepemimpinannya dalam isu hidup organis, khususnya dengan kampanye utamanya saat ini yaitu #ZeroWaste.

Tepatnya tanggal 2 Juni nanti, YPBB akan mencapai usianya yang ke 25. 25 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dapat KONSISTEN dalam mewujudkan visi dan menjalankan misinya.

Konsistensi juga adalah kunci utama di dalam perubahan perilaku kita dalam mengelola sampah di rumah, kawasan dan kota. Dalam rangka #25tahunYPBB, kami menghadirkan sebuah tantangan #7hariKonsistenZW!



Dalam tantangan #7hariKonsistenZW, Anda diajak untuk mencoba gaya hidup #ZeroWaste selama seminggu penuh mulai tanggal 26 Mei hingga 1 Juni 2018. Jangan khawatir, Anda dapat memulai dari hal-hal kecil!

Ketentuan Tantangan #7hariKonsistenZW: 


  1. Pastikan anda sudah mengikuti akun instagram @ypbbbandung
  2. Posting pengalaman anda dalam menjalani gaya hidup #ZeroWaste dalam seminggu berturut-turut pada tanggal 26 Mei - 1 Juni 2018 di akun Instagram pribadi Anda. Postingan dapat berupa foto/video. Postingan ini bisa menjadi dokumentasi bagaimana hebatnya usaha anda saat berupaya mengurangi sampah dari rumah dan tempat aktivitas.
  3. Cantumkan hashtag #25tahunYPBB #7hariKonsistenZW pada setiap postingan anda
  4. Mention 1 teman Anda untuk mengikuti tantangan #7hariKonsistenZW setiap melakukan posting
  5. Jangan lupa untuk tag @ypbbbandung dalam foto/video postingannya.
  6. Repost postingan ini agar semakin banyak yang mencoba tantangan #7hariKonsistenZW


Yuk ikut! Siapa tahu postingan Anda menginspirasi mereka yang belum konsisten melakukan gaya hidup #ZeroWaste.




Kegiatan International Zero Waste Cities Conference (IZWCC) telah berlangsung pada 5-7 Maret 2018 di Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung. Acara ini merupakan sebuah forum yang menyajikan konsep circular city kepada kepala daerah dan pimpinan perangkat daerah sebagai solusi bagi masalah sampah, serta pada saat yang sama, menciptakan sumber daya bagi pembangunan kota.

Dalam kegiatan IZWCC ini diterapkan sistem Zero Waste Event (ZWE) yaitu sebuah sistem pengelolaan sampah yang diterapkan pada suatu kegiatan (event). Dengan menerapkan sistem ZWE, event yang diselenggarakan menerapkan sebuah sistem pengelolaan sampah untuk meminimalisasi sampah menuju nol sampah (zero waste). Selain itu, secara tidak langsung event yang menerapkan sistem ZWE bisa menjadi sebuah media edukasi, kita seperti menciptakan sebuah “dunia kecil” yang kondusif untuk belajar memperlakukan barang yang sudah tidak terpakai (mengelola sampah).

Waktu untuk mempersiapkan sistem ZWE dalam IZWCC ini relatif singkat, namun masih ada beberapa hal yang dapat diupayakan dalam aspek Zero Waste Event oleh tim YPBB.

Upaya pemilahan: Zero Waste Spot

Zero Waste Spot (ZWS) adalah tempat ‘sampah’ sementara yang tersebar di area event.. Pada acara IZWCC, ZWS diletakkan di beberapa titik. Sarana yang disediakan di setiap titik ZWS  yaitu:
  • Tempat sampah sisa makanan
  • Tempat sampah lainnya
  • Wadah untuk piring dan sendok yang berupa tray atau meja
  • Kursi untuk tempat duduk relawan edukasi
Contoh Zero Waste Spot

Contoh Zero Waste Spot

Setiap titik tempat sampah disertai oleh 1 orang relawan edukasi yang berperan memberi penjelasan tentang cara memisah sampah dan (bila ada) menjawab pertanyaan terkait dengan sistem persampahan di kegiatan IZWCC. Sejumlah waiter hotel turut membantu menjalankan peranan relawan edukasi dalam aspek memberikan penjelasan teknis pemisahan sampah dan juga mengangkut sampah bila sudah penuh.

Relawan Edukasi Hari 1 (Bandung)

Tim Edukasi hari 2 (Cimahi)

Tim Edukasi hari 2 (Bandung)

Upaya penginformasian tentang pemilahan sampah di kegiatan ini pun didukung oleh himbauan berulang dari MC pada setiap kesempatan.

Upaya Pengurangan: Penyajian makanan

Terdapat beberapa hal yang disepakati dengan pihak dapur/katering.
  • Tisu dan tusuk gigi adalah 2 jenis barang yang hanya akan dikeluarkan bila diminta oleh peserta.
  • Gula untuk coffea break akan diberikan dalam bentuk curah (bukan sachetan), kopi dan teh jadi sudah tersedia dalam wadah (sehingga dipastikan tidak ada kemasan sachet kopi dan teh)
  • Plastic wrap tidak digunakan untuk snack maupun makan siang.
  • Snack sudah diberi panduan untuk tidak dipilih yang menggunakan kemasan plastik dan kertas paper cup. Penggunaan daun pisang masih diperbolehkan
  • Air minum akan disajikan menggunakan gelas kaca tanpa tutup dari kertas dan tersedia isi ulang bila diperlukan.
Contoh penyajian makanan di ruang pertemuan

Contoh penyajian minuman di dalam ruang pertemuan


Pengelolaan sampah tak hanya dilakukan di dalam gedung pertemuan saja, namun juga dilakukan upaya pengurangan pada tempat peserta menginap.

Upaya Pengurangan: Kamar Peserta

Upaya pengurangan sampah di kamar tamu yang dilakukan adalah:
  • Penggantian kemasan air minum, dari plastik ke kaca. Hal ini dilakukan karena pengadaan galon sebagai fasilitas isi ulang di sekitar kamar tidak memungkinkan.
  • Penggantian kemasan sachet kopi dan gula menjadi berwadah stainles. Masih tersisa potensi sampah dari teh celup karena pihak hotel tidak dapat menyediakan teh bubuk.
  • Pemaksimalan label terkait penghematan air untuk handuk dan seprai
  • Penyediaan sampo dan sabun dalam galon.
Contoh fasilitas makanan dan minuman di kamar hotel

Galon mini untuk sabun yang dapat difungsikan sebagai sampo

Upaya pemilahan: Kamar Peserta

Di dalam kamar adalah disediakan tempat sampah terpisah 2 buah yaitu 1 tempat sampah sisa makanan dan 1 tempat sampah lainnya sehingga diharapkan tamu memilah sejak awal.

Proses pengolahan sampah terpilah

Tentunya semua upaya pengurangan dan pemilahan dari awal ini perlu proses pengolahan lebih lanjut yang tepat. Telah dilakukan koordinasi dengan setiap pengelola tempat kegiatan, seperti misalnya dengan pihak hotel. Pihak hotel ruang pertemuan dan penginapan sampahnya sudah terbiasa dipilah (walaupun yang memilah adalah pegawai hotel) dan sampahnya disimpan secara terpisah dan akan diolah oleh pihak ketiga. Untuk kota Cimahi, dilakukan kerjasama dengan pihak DLH untuk memastikan sampah organisnya terkompos di TPS 3R.

Upaya Pengurangan: Lokasi Kunjungan (Site Visit)

Terdapat 10 titik yang dikunjungi oleh peserta yang tersebar di 3 kota yaitu Kota Bandung 6 titik, kota Cimahi 3 titik dan kabupaten Bandung 1 titik. Para penanggung jawab site visit telah diinformasikan supaya mengurangi potensi sampah dari awal (mengecek kepada pihak penyedia makanan) dan menyediakan tempat sampah terpilah sehingga dapat memudahkan proses pengelolaan sampah selanjutnya dengan mengajak peserta untuk memisahkan sampah dari awal. Proses penginformasikan tersebut dilakukan pada melalui pertemuan briefing secara langsung. Penanggung jawab lokasi yang tidak dapat hadir tetap mendapatkan mendapatkan informasi lewat media telepon dan whatsapp.

Penyajian di Hijau Lestari Kota Bandung. Air disediakan dalam galon. Peserta tinggal isi ulang tumbler atau gelas plastik reusable yang disediakan oleh pihak Hijau Lestari.

Penyajian makanan di RW 9 Sukaluyu kota Bandung. Sudah tidak terlihat kemasan plastik. Biasanya warga berinisiatif menyajikan kopi dari kemasan sachet, kali ini tak nampak. Mudah-mudahan konsisten di berbagai kegiatan RW lainnya.

Penyajian makanan di Soreang Kabupaten Bandung. Unik dan praktis: bawa gerobaknya sekalian. Minuman disediakan galon

Penyajian makanan di Neglasari Kota Bandung, sudah tidak bersampah dan menggunakan pisin (piring kecil)

Ini yang telah tim YPBB coba upayakan untuk menekan jumlah sampah dari acara IZWCC. Apakah anda juga berminat melakukannya pada kegiatan anda? 









Dalam memperingati Hari Bumi internasional yang jatuh pada tanggal 22 April 2018, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) “WASSER” menggelar acara Earth Day Expo bertajuk “Memulai Ide besar dengan Langkah Kecil - #SaveEarth”. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu (28/04/18) bertempatkan di Aula Prof. Djojohadikusumo, Jalan Terusan Halimun No. 37 Bandung. Lebih dari 100 mahasiswa, yang tidak hanya dari anggota HMTL, tetapi juga gabungan dari berbagai himpunan mahasiswa se-Universitas Kebangsaan, UKM, dan BEM turut memenuhi tempat duduk dan meramaikan acara. Hadir pula di tengah-tengah peserta yakni Ibu Tri Mulyani, S.T., IL., selaku Ketua Program Studi Teknik Lingkungan dan Bapak Ir. Gede H. Cahyana, M.T. selaku Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.


Anil Saat Sedang Mengenalkan YPBB kepada Para Peserta

Puncak expo ini ditandai dengan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah oleh Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB). Setelah MC memberi kesempatan, Anilawati selaku perwakilan dari YPBB pun kemudian menyampaikan materi yang telah disiapkannya. Beberapa menit pertama, Anil mengenalkan YPBB kepada para peserta kegiatan, dilanjut menonton video bersama mengenai pengelolaan sampah yang yang telah berjalan di RW 09 Sukaluyu, Kota Bandung. Adapun maksud dari pemutaran video tersebut untuk memberikan gambaran bahwa pengolahan sampah yang baik tidak akan pernah tercapai, apabila masyarakat di suatu wilayah belum mau memilah sampah yang dihasilkannya. Banyak cara yang dapat digagas untuk mengetaskan permasalahan itu, salah satunya dengan memberikan SP kepada warga dan bahkan sampah tidak diambil oleh petugas kebersihan.

Usai video diputar, Anil mengajak para peserta untuk mengutarakan pertanyaannya terkait video yang telah ditonton. Sesi Tanya jawab ini diadakan untuk memperdalam pemahaman tentang pelaksaaan system pemilahan di suatu kawasan. Cukup banyak peserta yang mengacungkan jarinya untuk bertanya. Antusias sangat terlihat dari wajah para peserta. Dari sekian pertanyaan, ada satu pertanyaan yang menggelitik dan membuat peserta lain mengangguk-anggukan kepalanya untuk sama-sama ingin segera mengetahui jawabannya. “Sebenarnya, apa sih manfaat untuk masyarakat RW 09 sendiri ketika mereka memilah sampah?”, Ujar Maulana Yusuf, salah satu mahasiswa dari UKM Teater Lima Wajah.

“Dengan adanya upaya pemilahan, maka masyarakat telah mengambil peranannya dalam sistem pengelolaan kawasan. Sebab setiap jenis sampah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penanganannya pun berbeda pula. Apabila sampah tercampur, maka sampah menjadi tidak bisa diolah dan pada akhirnya dibuang ke TPA. Hal ini lah yang memicu tumpukan sampah di TPA semakin menggunung. Kebiasaan mencampur sampah sama artinya dengan mempercepat rutinitas pembuangan sampah ke TPA. Perlu diketahui bahwa, sampah dan dapat mendatangkan keuntungan apabila dikelola dengan tepat. Contohnya saja, sampah organik lunak dapat dijadikan sebagai bahan isian biodegester yang menghasilkan gas metan untuk keperluan memasak, dan sampah organik keras dapat dikomposkan. Sederhana saja, cukup menggunakan lubang pengomposan. Kompos dapat dipanen dan dipakai sebagai media menanam.Begitu pula sampah anorganik, seperti botol dan kertas dapat dijual dan menambah pemasukan petugas sampah”,  ujar Anil menjawab pertanyaan Yusuf.



Sesi Bertanya Terkait Konten Video yang Telah Ditonton Bersama

Usai pertanyaan terjawab, sesi pun dilanjutkan dengan pemaparan materi teknis pemilahan yang direkomendasikan oleh YPBB dan aspek-aspek yang berperan penting dalam pengelolaan sampah.

Menurut YPBB, untuk di kawasan perumahan sampah setidaknya dibagi menjadi 4 macam yaitu sampah organik lunak, sampah organik keras, sampah residu, dan sampah selain sampah organik dan sampah residu. Sampah organik lunak misalnya saja nasi bekas, potongan sayur, dan buah. Sampah organik keras seperti kulit buah, ranting, daun kering, serta tulang. Sampah residu misalnya popok, pembalut, masker, dan sampah selain sampah organik dan sampah residu contohnya adalah botol plastik dan kertas. Spesifikasi wadah masing-masing jenis sampah berbeda satu sama lain. Wadah harus reusable dan dapat menggunakan wadah bekas yang tersedia di rumah, seperti kaleng biskuit, wadah cat, dan ember bekas. Tidak dianjurkan menggunakan plastik sekali pakai seperti keresek karena berpotensi menghasilkan sampah baru.

Sesi Lanjutan tentang Teknis Pemilahan Sampah dan Aspek Pendukung

Anil juga menjelaskan bahwa aspek pembiayaan, sosial budaya, peraturan, kelembagaan, dan teknis operasional sangat mempengaruhi pengelolaan sampah di suatu kawasan. Semua aspek harus saling bersinergi dan memenuhi standar kriteria sesuai kondisi yang direncanakan. Sebagai gambaran, misalnya pengelolaan sampah tidak akan berjalan apabila aspek pembiayaan sebagai dana operasional tidak mendukung. Padahal dalam pengelolaan sampah membutuhkan sarana dan prasarana seperti gerobak sampah dan unit pengolahan yang penyediaannya dengan cara pembelian, juga petugas sampah yang perlu digaji seara layak agar. Selain itu, ditinjau dari aspek sosial budaya, selagi masyarakat masih berpikiran bahwa pemilahan tidak penting, pemilahan sampah adalah tugas dan tanggungjawab pemerintah, dan masyarakat cukup membayar retribusi setiap bulannya, hal ini bisa mengganggu kestabilan dan bahkan membuat upaya pengelolaan sampah terhenti. Hal-hal ini yang perlu diperhatikan pula bila Universitas Kebangsaan ingin memulai pengelolaan sampah terpilah.



Penyerahan Sertifikat Ucapan Terimakasih oleh Ketua HMTL “WASSER” kepada Pemateri
Sesi Poto Bersama dengan Seluruh Peserta Expo



Expo ini kemudian ditutup dengan pemberian sertifikat oleh Ketua HMTL “WASSER” kepada pemateri. Dilanjutkan dengan closing statement dari Bapak Gede. Dalam pidatonya, Bapak Gede menegaskan bahwa Universitas Kebangsaan harus berusaha menjadi kampus yang mau mengelola sampahnya secara mandiri dan ikut andil dalam pelestarian lingkungan. Diharapkan kerjasama antara Universitas Kebangsaan dan YPBB terus terjalin dan saling bersinergi dalam membuat inovasi-inovasi untuk mengetaskan permasalahan persampahan.


Setiap tahun, tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Nasional. Seluruh aktivis dan pengamat lingkungan tentu memperingati hari peringatan lingkungan tersebut dengan menyelenggarakan beragam acara seperti penanaman pohon, seminar bertema lingkungan hingga kampanye gaya hidup bebas sampah (Zero Waste). Begitupun yang dilakukan oleh MA Multiteknik Asih Putera Cimahi yang menyelenggarakan sosialisasi singkat dan rangkaian perlombaan dalam rangka peringatan Hari Bumi. Pada kesempatan tersebut, YPBB dipilih menjadi pembicara dalam sosialisasi gaya hidup Zero Waste atau biasa disebut Zero Waste Lifestyle.

Pembukaan Rangkaian Acara Peringatan Hari Bumi MA Multiteknik Asih Putera

Acara tersebut diselenggakan pada hari Selasa, 24 April 2018 di Aula MA Multiteknik Asih Putera Cimahi, Jl. M. Daeng Ardiwinata No. 199. Siswa dan siswi terlihat sudah berkumpul sejak pagi di Aula Sekolah untuk segera memulai rangkaian acara peringatan Hari Bumi tersebut. Setelah acara dibuka oleh MC, sosialisasi Zero Waste Lifestyle pun menjadi agenda pertama pada acara tersebut. Anilawati sebagai pembicara dari YPBB, menampilkan video berdurasi 30 menit pada siswa-siswi MA Multiteknik Asih Putera sebagai pengenalan terhadap Zero Waste Lifestyle dan contoh yang telah dilakukan oleh RW 09 Sukaluyu Kota Bandung.


Diskusi tentang Zero Waste Lifestyle bersama tim YPBB

Melalui video singkat tersebut, YPBB berharap siswa-siswi MA Multiteknik Asih Putera dapat memulai Zero Waste Lifestyle khususnya di lingkungan sekolah mereka sendiri. Pihak sekolah mengakui bahwa mereka belum memiliki fasilitas khusus untuk mengelola sampah di lingkungan MA/MTs Asih Putera, namun dalam waktu dekat mereka berminat untuk melakukan pengelolaan sampah. Siswa dan siswi, dan seluruh warga sekolah pun diharapkan dapat segera mewujudkan pengelolaan sampah di MA Asih Putera tersebut.


Setelah video selesai diputar, beberapa siswa dimintai pendapat mengenai “hal baru” yang dilihat pada video tersebut. Mereka mengaku bahwa pemilahan dan pengomposan sampah yang dilakukan RW 09 terlihat sebagai hal baru. Beberapa yang lain mengaku sudah pernah melakukan pemilahan dan pengomposan, namun hasil pemilahan sampah di rumahnya dicampur kembali oleh petugas pengangkut sampah. Anilawati menjelaskan bahwa di RW 09 Sukaluyu dapat mempertahankan pemilahan sampah hingga TPS karena semua pihak yang terlibat seperti petugas sampah, warga, ketua RT dan RW telah bersinergi untuk menjalankan Zero Waste Lifestyle. Kerjasama tersebut juga dibarengi dengan ketersediaan fasilitas seperti biodigester dan lubang kompos.

Diskusi kelompok pada permainan “Andai Aku Kepala Sekolah”

Untuk menambah pemahaman siswa-siswi mengenai Zero Waste Lifestyle, siswa-siswi dibentuk menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4 – 5 orang. Mereka diminta untuk bermain “Andai Aku Kepala Sekolah” dengan tema pengelolaan sampah di sekolah. Masing-masing kelompok diberi sebuah kertas HVS dan diminta untuk menggambarkan atau menuliskan angan-angan mereka tentang pengelolaan sampah di sekolah jika mereka menjadi kepala sekolah. Mereka diberikan waktu 15  menit untuk berdiskusi, lalu nama wakil kelompok dipanggil secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.

Kelompok presentasi pertama “Andai Aku Kepala Sekolah”

Kelompok presentasi kedua “Andai Aku Kepala Sekolah”


Kelompok pertama yang mempresentasikan hasil diskusi mengatakan bahwa jika mereka menjadi kepala sekolah, mereka ingin menyediakan berbagai fasilitas pengolahan sampah seperti mesin pengolah sampah. Kelompok kedua mengatakan bahwa mereka ingin memisahkan sampah dan melarang penggunaan plastik oleh pedagang di sekolah. Ide-ide yang disampaikan tergolong baik untuk pengetahuan Zero Waste Lifestyle, namun jika ingin diwujudkan, menurut Anilawati, perlu dilakukan pendataan awal mengenai jenis sampah yang paling banyak dihasilkan di sekolah. “Ketika kita sudah tahu jenis sampah apa yang paling banyak dihasilkan, kita dapat memilih pengelolaan sampah yang tepat” sahut Anilawati sebagai kata penutup dari sosialisasi singkat Zero Waste Lifestyle di MA Multiteknik Asih Putera.