Welcome to our website !
Hampir 25 tahun Perkumpulan YPBB bersama anda!

Perkumpulan YPBB adalah organisasi non-profit, yang selama hampir 25 tahun telah mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat mencapai kualitas hidup umat manusia yang tinggi, untuk generasi sekarang dan terlebih untuk anak cucu kita melalui gaya hidup selaras dengan alam. YPBB mempromosikan inovasi-inovasi terbaik pola hidup organis dan membantu masyarakat mengadopsi pola hidup tersebut secara efektif melalui program-program edukasi, dukungan kelompok, pengorganisasian masyarakat, serta dukungan teknologi dan infrastruktur.  Saat ini YPBB telah dikenal dengan kepemimpinannya dalam isu hidup organis, khususnya dengan kampanye utamanya saat ini yaitu #ZeroWaste.

Tepatnya tanggal 2 Juni nanti, YPBB akan mencapai usianya yang ke 25. 25 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk dapat KONSISTEN dalam mewujudkan visi dan menjalankan misinya.

Konsistensi juga adalah kunci utama di dalam perubahan perilaku kita dalam mengelola sampah di rumah, kawasan dan kota. Dalam rangka #25tahunYPBB, kami menghadirkan sebuah tantangan #7hariKonsistenZW!



Dalam tantangan #7hariKonsistenZW, Anda diajak untuk mencoba gaya hidup #ZeroWaste selama seminggu penuh mulai tanggal 26 Mei hingga 1 Juni 2018. Jangan khawatir, Anda dapat memulai dari hal-hal kecil!

Ketentuan Tantangan #7hariKonsistenZW: 


  1. Pastikan anda sudah mengikuti akun instagram @ypbbbandung
  2. Posting pengalaman anda dalam menjalani gaya hidup #ZeroWaste dalam seminggu berturut-turut pada tanggal 26 Mei - 1 Juni 2018 di akun Instagram pribadi Anda. Postingan dapat berupa foto/video. Postingan ini bisa menjadi dokumentasi bagaimana hebatnya usaha anda saat berupaya mengurangi sampah dari rumah dan tempat aktivitas.
  3. Cantumkan hashtag #25tahunYPBB #7hariKonsistenZW pada setiap postingan anda
  4. Mention 1 teman Anda untuk mengikuti tantangan #7hariKonsistenZW setiap melakukan posting
  5. Jangan lupa untuk tag @ypbbbandung dalam foto/video postingannya.
  6. Repost postingan ini agar semakin banyak yang mencoba tantangan #7hariKonsistenZW


Yuk ikut! Siapa tahu postingan Anda menginspirasi mereka yang belum konsisten melakukan gaya hidup #ZeroWaste.




Kegiatan International Zero Waste Cities Conference (IZWCC) telah berlangsung pada 5-7 Maret 2018 di Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung. Acara ini merupakan sebuah forum yang menyajikan konsep circular city kepada kepala daerah dan pimpinan perangkat daerah sebagai solusi bagi masalah sampah, serta pada saat yang sama, menciptakan sumber daya bagi pembangunan kota.

Dalam kegiatan IZWCC ini diterapkan sistem Zero Waste Event (ZWE) yaitu sebuah sistem pengelolaan sampah yang diterapkan pada suatu kegiatan (event). Dengan menerapkan sistem ZWE, event yang diselenggarakan menerapkan sebuah sistem pengelolaan sampah untuk meminimalisasi sampah menuju nol sampah (zero waste). Selain itu, secara tidak langsung event yang menerapkan sistem ZWE bisa menjadi sebuah media edukasi, kita seperti menciptakan sebuah “dunia kecil” yang kondusif untuk belajar memperlakukan barang yang sudah tidak terpakai (mengelola sampah).

Waktu untuk mempersiapkan sistem ZWE dalam IZWCC ini relatif singkat, namun masih ada beberapa hal yang dapat diupayakan dalam aspek Zero Waste Event oleh tim YPBB.

Upaya pemilahan: Zero Waste Spot

Zero Waste Spot (ZWS) adalah tempat ‘sampah’ sementara yang tersebar di area event.. Pada acara IZWCC, ZWS diletakkan di beberapa titik. Sarana yang disediakan di setiap titik ZWS  yaitu:
  • Tempat sampah sisa makanan
  • Tempat sampah lainnya
  • Wadah untuk piring dan sendok yang berupa tray atau meja
  • Kursi untuk tempat duduk relawan edukasi
Contoh Zero Waste Spot

Contoh Zero Waste Spot

Setiap titik tempat sampah disertai oleh 1 orang relawan edukasi yang berperan memberi penjelasan tentang cara memisah sampah dan (bila ada) menjawab pertanyaan terkait dengan sistem persampahan di kegiatan IZWCC. Sejumlah waiter hotel turut membantu menjalankan peranan relawan edukasi dalam aspek memberikan penjelasan teknis pemisahan sampah dan juga mengangkut sampah bila sudah penuh.

Relawan Edukasi Hari 1 (Bandung)

Tim Edukasi hari 2 (Cimahi)

Tim Edukasi hari 2 (Bandung)

Upaya penginformasian tentang pemilahan sampah di kegiatan ini pun didukung oleh himbauan berulang dari MC pada setiap kesempatan.

Upaya Pengurangan: Penyajian makanan

Terdapat beberapa hal yang disepakati dengan pihak dapur/katering.
  • Tisu dan tusuk gigi adalah 2 jenis barang yang hanya akan dikeluarkan bila diminta oleh peserta.
  • Gula untuk coffea break akan diberikan dalam bentuk curah (bukan sachetan), kopi dan teh jadi sudah tersedia dalam wadah (sehingga dipastikan tidak ada kemasan sachet kopi dan teh)
  • Plastic wrap tidak digunakan untuk snack maupun makan siang.
  • Snack sudah diberi panduan untuk tidak dipilih yang menggunakan kemasan plastik dan kertas paper cup. Penggunaan daun pisang masih diperbolehkan
  • Air minum akan disajikan menggunakan gelas kaca tanpa tutup dari kertas dan tersedia isi ulang bila diperlukan.
Contoh penyajian makanan di ruang pertemuan

Contoh penyajian minuman di dalam ruang pertemuan


Pengelolaan sampah tak hanya dilakukan di dalam gedung pertemuan saja, namun juga dilakukan upaya pengurangan pada tempat peserta menginap.

Upaya Pengurangan: Kamar Peserta

Upaya pengurangan sampah di kamar tamu yang dilakukan adalah:
  • Penggantian kemasan air minum, dari plastik ke kaca. Hal ini dilakukan karena pengadaan galon sebagai fasilitas isi ulang di sekitar kamar tidak memungkinkan.
  • Penggantian kemasan sachet kopi dan gula menjadi berwadah stainles. Masih tersisa potensi sampah dari teh celup karena pihak hotel tidak dapat menyediakan teh bubuk.
  • Pemaksimalan label terkait penghematan air untuk handuk dan seprai
  • Penyediaan sampo dan sabun dalam galon.
Contoh fasilitas makanan dan minuman di kamar hotel

Galon mini untuk sabun yang dapat difungsikan sebagai sampo

Upaya pemilahan: Kamar Peserta

Di dalam kamar adalah disediakan tempat sampah terpisah 2 buah yaitu 1 tempat sampah sisa makanan dan 1 tempat sampah lainnya sehingga diharapkan tamu memilah sejak awal.

Proses pengolahan sampah terpilah

Tentunya semua upaya pengurangan dan pemilahan dari awal ini perlu proses pengolahan lebih lanjut yang tepat. Telah dilakukan koordinasi dengan setiap pengelola tempat kegiatan, seperti misalnya dengan pihak hotel. Pihak hotel ruang pertemuan dan penginapan sampahnya sudah terbiasa dipilah (walaupun yang memilah adalah pegawai hotel) dan sampahnya disimpan secara terpisah dan akan diolah oleh pihak ketiga. Untuk kota Cimahi, dilakukan kerjasama dengan pihak DLH untuk memastikan sampah organisnya terkompos di TPS 3R.

Upaya Pengurangan: Lokasi Kunjungan (Site Visit)

Terdapat 10 titik yang dikunjungi oleh peserta yang tersebar di 3 kota yaitu Kota Bandung 6 titik, kota Cimahi 3 titik dan kabupaten Bandung 1 titik. Para penanggung jawab site visit telah diinformasikan supaya mengurangi potensi sampah dari awal (mengecek kepada pihak penyedia makanan) dan menyediakan tempat sampah terpilah sehingga dapat memudahkan proses pengelolaan sampah selanjutnya dengan mengajak peserta untuk memisahkan sampah dari awal. Proses penginformasikan tersebut dilakukan pada melalui pertemuan briefing secara langsung. Penanggung jawab lokasi yang tidak dapat hadir tetap mendapatkan mendapatkan informasi lewat media telepon dan whatsapp.

Penyajian di Hijau Lestari Kota Bandung. Air disediakan dalam galon. Peserta tinggal isi ulang tumbler atau gelas plastik reusable yang disediakan oleh pihak Hijau Lestari.

Penyajian makanan di RW 9 Sukaluyu kota Bandung. Sudah tidak terlihat kemasan plastik. Biasanya warga berinisiatif menyajikan kopi dari kemasan sachet, kali ini tak nampak. Mudah-mudahan konsisten di berbagai kegiatan RW lainnya.

Penyajian makanan di Soreang Kabupaten Bandung. Unik dan praktis: bawa gerobaknya sekalian. Minuman disediakan galon

Penyajian makanan di Neglasari Kota Bandung, sudah tidak bersampah dan menggunakan pisin (piring kecil)

Ini yang telah tim YPBB coba upayakan untuk menekan jumlah sampah dari acara IZWCC. Apakah anda juga berminat melakukannya pada kegiatan anda? 









Dalam memperingati Hari Bumi internasional yang jatuh pada tanggal 22 April 2018, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) “WASSER” menggelar acara Earth Day Expo bertajuk “Memulai Ide besar dengan Langkah Kecil - #SaveEarth”. Acara ini dilaksanakan pada Sabtu (28/04/18) bertempatkan di Aula Prof. Djojohadikusumo, Jalan Terusan Halimun No. 37 Bandung. Lebih dari 100 mahasiswa, yang tidak hanya dari anggota HMTL, tetapi juga gabungan dari berbagai himpunan mahasiswa se-Universitas Kebangsaan, UKM, dan BEM turut memenuhi tempat duduk dan meramaikan acara. Hadir pula di tengah-tengah peserta yakni Ibu Tri Mulyani, S.T., IL., selaku Ketua Program Studi Teknik Lingkungan dan Bapak Ir. Gede H. Cahyana, M.T. selaku Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.


Anil Saat Sedang Mengenalkan YPBB kepada Para Peserta

Puncak expo ini ditandai dengan sosialisasi mengenai pengelolaan sampah oleh Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB). Setelah MC memberi kesempatan, Anilawati selaku perwakilan dari YPBB pun kemudian menyampaikan materi yang telah disiapkannya. Beberapa menit pertama, Anil mengenalkan YPBB kepada para peserta kegiatan, dilanjut menonton video bersama mengenai pengelolaan sampah yang yang telah berjalan di RW 09 Sukaluyu, Kota Bandung. Adapun maksud dari pemutaran video tersebut untuk memberikan gambaran bahwa pengolahan sampah yang baik tidak akan pernah tercapai, apabila masyarakat di suatu wilayah belum mau memilah sampah yang dihasilkannya. Banyak cara yang dapat digagas untuk mengetaskan permasalahan itu, salah satunya dengan memberikan SP kepada warga dan bahkan sampah tidak diambil oleh petugas kebersihan.

Usai video diputar, Anil mengajak para peserta untuk mengutarakan pertanyaannya terkait video yang telah ditonton. Sesi Tanya jawab ini diadakan untuk memperdalam pemahaman tentang pelaksaaan system pemilahan di suatu kawasan. Cukup banyak peserta yang mengacungkan jarinya untuk bertanya. Antusias sangat terlihat dari wajah para peserta. Dari sekian pertanyaan, ada satu pertanyaan yang menggelitik dan membuat peserta lain mengangguk-anggukan kepalanya untuk sama-sama ingin segera mengetahui jawabannya. “Sebenarnya, apa sih manfaat untuk masyarakat RW 09 sendiri ketika mereka memilah sampah?”, Ujar Maulana Yusuf, salah satu mahasiswa dari UKM Teater Lima Wajah.

“Dengan adanya upaya pemilahan, maka masyarakat telah mengambil peranannya dalam sistem pengelolaan kawasan. Sebab setiap jenis sampah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga penanganannya pun berbeda pula. Apabila sampah tercampur, maka sampah menjadi tidak bisa diolah dan pada akhirnya dibuang ke TPA. Hal ini lah yang memicu tumpukan sampah di TPA semakin menggunung. Kebiasaan mencampur sampah sama artinya dengan mempercepat rutinitas pembuangan sampah ke TPA. Perlu diketahui bahwa, sampah dan dapat mendatangkan keuntungan apabila dikelola dengan tepat. Contohnya saja, sampah organik lunak dapat dijadikan sebagai bahan isian biodegester yang menghasilkan gas metan untuk keperluan memasak, dan sampah organik keras dapat dikomposkan. Sederhana saja, cukup menggunakan lubang pengomposan. Kompos dapat dipanen dan dipakai sebagai media menanam.Begitu pula sampah anorganik, seperti botol dan kertas dapat dijual dan menambah pemasukan petugas sampah”,  ujar Anil menjawab pertanyaan Yusuf.



Sesi Bertanya Terkait Konten Video yang Telah Ditonton Bersama

Usai pertanyaan terjawab, sesi pun dilanjutkan dengan pemaparan materi teknis pemilahan yang direkomendasikan oleh YPBB dan aspek-aspek yang berperan penting dalam pengelolaan sampah.

Menurut YPBB, untuk di kawasan perumahan sampah setidaknya dibagi menjadi 4 macam yaitu sampah organik lunak, sampah organik keras, sampah residu, dan sampah selain sampah organik dan sampah residu. Sampah organik lunak misalnya saja nasi bekas, potongan sayur, dan buah. Sampah organik keras seperti kulit buah, ranting, daun kering, serta tulang. Sampah residu misalnya popok, pembalut, masker, dan sampah selain sampah organik dan sampah residu contohnya adalah botol plastik dan kertas. Spesifikasi wadah masing-masing jenis sampah berbeda satu sama lain. Wadah harus reusable dan dapat menggunakan wadah bekas yang tersedia di rumah, seperti kaleng biskuit, wadah cat, dan ember bekas. Tidak dianjurkan menggunakan plastik sekali pakai seperti keresek karena berpotensi menghasilkan sampah baru.

Sesi Lanjutan tentang Teknis Pemilahan Sampah dan Aspek Pendukung

Anil juga menjelaskan bahwa aspek pembiayaan, sosial budaya, peraturan, kelembagaan, dan teknis operasional sangat mempengaruhi pengelolaan sampah di suatu kawasan. Semua aspek harus saling bersinergi dan memenuhi standar kriteria sesuai kondisi yang direncanakan. Sebagai gambaran, misalnya pengelolaan sampah tidak akan berjalan apabila aspek pembiayaan sebagai dana operasional tidak mendukung. Padahal dalam pengelolaan sampah membutuhkan sarana dan prasarana seperti gerobak sampah dan unit pengolahan yang penyediaannya dengan cara pembelian, juga petugas sampah yang perlu digaji seara layak agar. Selain itu, ditinjau dari aspek sosial budaya, selagi masyarakat masih berpikiran bahwa pemilahan tidak penting, pemilahan sampah adalah tugas dan tanggungjawab pemerintah, dan masyarakat cukup membayar retribusi setiap bulannya, hal ini bisa mengganggu kestabilan dan bahkan membuat upaya pengelolaan sampah terhenti. Hal-hal ini yang perlu diperhatikan pula bila Universitas Kebangsaan ingin memulai pengelolaan sampah terpilah.



Penyerahan Sertifikat Ucapan Terimakasih oleh Ketua HMTL “WASSER” kepada Pemateri
Sesi Poto Bersama dengan Seluruh Peserta Expo



Expo ini kemudian ditutup dengan pemberian sertifikat oleh Ketua HMTL “WASSER” kepada pemateri. Dilanjutkan dengan closing statement dari Bapak Gede. Dalam pidatonya, Bapak Gede menegaskan bahwa Universitas Kebangsaan harus berusaha menjadi kampus yang mau mengelola sampahnya secara mandiri dan ikut andil dalam pelestarian lingkungan. Diharapkan kerjasama antara Universitas Kebangsaan dan YPBB terus terjalin dan saling bersinergi dalam membuat inovasi-inovasi untuk mengetaskan permasalahan persampahan.


Setiap tahun, tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi Nasional. Seluruh aktivis dan pengamat lingkungan tentu memperingati hari peringatan lingkungan tersebut dengan menyelenggarakan beragam acara seperti penanaman pohon, seminar bertema lingkungan hingga kampanye gaya hidup bebas sampah (Zero Waste). Begitupun yang dilakukan oleh MA Multiteknik Asih Putera Cimahi yang menyelenggarakan sosialisasi singkat dan rangkaian perlombaan dalam rangka peringatan Hari Bumi. Pada kesempatan tersebut, YPBB dipilih menjadi pembicara dalam sosialisasi gaya hidup Zero Waste atau biasa disebut Zero Waste Lifestyle.

Pembukaan Rangkaian Acara Peringatan Hari Bumi MA Multiteknik Asih Putera

Acara tersebut diselenggakan pada hari Selasa, 24 April 2018 di Aula MA Multiteknik Asih Putera Cimahi, Jl. M. Daeng Ardiwinata No. 199. Siswa dan siswi terlihat sudah berkumpul sejak pagi di Aula Sekolah untuk segera memulai rangkaian acara peringatan Hari Bumi tersebut. Setelah acara dibuka oleh MC, sosialisasi Zero Waste Lifestyle pun menjadi agenda pertama pada acara tersebut. Anilawati sebagai pembicara dari YPBB, menampilkan video berdurasi 30 menit pada siswa-siswi MA Multiteknik Asih Putera sebagai pengenalan terhadap Zero Waste Lifestyle dan contoh yang telah dilakukan oleh RW 09 Sukaluyu Kota Bandung.


Diskusi tentang Zero Waste Lifestyle bersama tim YPBB

Melalui video singkat tersebut, YPBB berharap siswa-siswi MA Multiteknik Asih Putera dapat memulai Zero Waste Lifestyle khususnya di lingkungan sekolah mereka sendiri. Pihak sekolah mengakui bahwa mereka belum memiliki fasilitas khusus untuk mengelola sampah di lingkungan MA/MTs Asih Putera, namun dalam waktu dekat mereka berminat untuk melakukan pengelolaan sampah. Siswa dan siswi, dan seluruh warga sekolah pun diharapkan dapat segera mewujudkan pengelolaan sampah di MA Asih Putera tersebut.


Setelah video selesai diputar, beberapa siswa dimintai pendapat mengenai “hal baru” yang dilihat pada video tersebut. Mereka mengaku bahwa pemilahan dan pengomposan sampah yang dilakukan RW 09 terlihat sebagai hal baru. Beberapa yang lain mengaku sudah pernah melakukan pemilahan dan pengomposan, namun hasil pemilahan sampah di rumahnya dicampur kembali oleh petugas pengangkut sampah. Anilawati menjelaskan bahwa di RW 09 Sukaluyu dapat mempertahankan pemilahan sampah hingga TPS karena semua pihak yang terlibat seperti petugas sampah, warga, ketua RT dan RW telah bersinergi untuk menjalankan Zero Waste Lifestyle. Kerjasama tersebut juga dibarengi dengan ketersediaan fasilitas seperti biodigester dan lubang kompos.

Diskusi kelompok pada permainan “Andai Aku Kepala Sekolah”

Untuk menambah pemahaman siswa-siswi mengenai Zero Waste Lifestyle, siswa-siswi dibentuk menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4 – 5 orang. Mereka diminta untuk bermain “Andai Aku Kepala Sekolah” dengan tema pengelolaan sampah di sekolah. Masing-masing kelompok diberi sebuah kertas HVS dan diminta untuk menggambarkan atau menuliskan angan-angan mereka tentang pengelolaan sampah di sekolah jika mereka menjadi kepala sekolah. Mereka diberikan waktu 15  menit untuk berdiskusi, lalu nama wakil kelompok dipanggil secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.

Kelompok presentasi pertama “Andai Aku Kepala Sekolah”

Kelompok presentasi kedua “Andai Aku Kepala Sekolah”


Kelompok pertama yang mempresentasikan hasil diskusi mengatakan bahwa jika mereka menjadi kepala sekolah, mereka ingin menyediakan berbagai fasilitas pengolahan sampah seperti mesin pengolah sampah. Kelompok kedua mengatakan bahwa mereka ingin memisahkan sampah dan melarang penggunaan plastik oleh pedagang di sekolah. Ide-ide yang disampaikan tergolong baik untuk pengetahuan Zero Waste Lifestyle, namun jika ingin diwujudkan, menurut Anilawati, perlu dilakukan pendataan awal mengenai jenis sampah yang paling banyak dihasilkan di sekolah. “Ketika kita sudah tahu jenis sampah apa yang paling banyak dihasilkan, kita dapat memilih pengelolaan sampah yang tepat” sahut Anilawati sebagai kata penutup dari sosialisasi singkat Zero Waste Lifestyle di MA Multiteknik Asih Putera.




PLASTIK PLASTIK PLASTIK?

Saat ini plastik sekali pakai adalah bahan yang paling banyak digunakan untuk mengemas makanan. Kemasan plastik sering digunakan karena dianggap dapat memperpanjang masa simpan makanan. Namun, data pendukung anggapan tersebut sebenarnya kurang kuat dan mengabaikan akibat setelah kemasan tersebut tidak digunakan lagi.

Fenomena penggunaan plastik pun bukan terjadi pada kemasan makanan saja. Alat makan atau pendukung yang ditawarkan oleh berbagai produk pun didesain sekali pakai. Anda pernah mendapatkan fasilitas di tempat makan berupa sendok, sedotan, gelas, sumpit dkk yang sekali pakai bukan? 

Keseruan isu dari kemasan ini ditambah lagi dengan kemasan yang "boros"! Kemasan sampai berlapis-lapis. Ada pula beberapa produk yang dikelompokkan dan kemudian dikemas jadi 1 paket. Padahal sesungguhnya mungkin konsumen hanya butuh 1 jenis barang saja. Kemasan kecil atau sachet pun saat ini marak! Kemasan sachaet apalagi yang berwarna-warni diperkirakan memiliki potensi daur ulang nol. Jual beli online dan layanan pesan antar makanan pun dapat meningkatkan jumlah kemasan yang digunakan.


Tahun 2018 ini, hari bumi mengangkat tema Ending Plastic Pollution. Dalam rangka memperingatinya, YPBB mengajak anda semua untuk mengangkat fenomena penggunaan plastik kemasan yang semakin marak saat ini. Sekaligus juga mengangkat upaya solusi pengurangan yang telah ada.



Bagaimana caranya?


  • Follower instagram @ypbbbandung diajak untuk memposting 2 foto (dalam 1 postingan). Satu foto berupa masalah kemasan yang pernah ditemui. Satu foto berupa solusi berkaitan dengan masalah yang ada di foto pertama. Kedua foto wajib hasil karya follower.
  • Di postingan tersebut: 
    • dapat men-tag produsen produk terkait (tidak wajib)
    • wajib men-tag 2 akun untuk diajak mengikuti kegiatan
    • wajib menyertakan hastag #masalahVSsolusi #BreakFreeFromPlastic #GoForZeroWaste #earthday2018
    • wajib follow dan mention akun instagram @ypbbbandung
  • Peserta wajib meregram poster lomba dan aturan mainnya
  • Postingan dibuat maksimal 1 hari 1 kali selama durasi kegiatan
  • Durasi kegiatan: 21-27 April 2018. 

Hadiah menarik menanti anda!

  • Setiap harinya akan ada 1 foto terbaik yang di-regram oleh akun YPBB
  • Tersedia 2 hadiah paket kit Zero Waste bagi 2 postingan terbaik selama periode kegiatan.
  • Paket akan dikirim ke alamat pemenang yang berada di negara Indonesia.


Tunggu apa lagi? Yuk, IKUT POSTING 2 FOTO #masalahVSsolusi kemasan!
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan dari suatu proses. Dari proses keseharian kita, pasti kita selalu menghasilkan sampah. Dan adakah yang tahu kemanakah sampah dari rumah atau kantor kita?

Jawabannya adalah ke Tempat Pembuangan Akhir atau disingkat TPA. Tapi mungkin banyak yang tidak tahu dimana TPA tempat sampah kita dibuang. Karena selama ini orang hanya tahu yang penting sampah kita terbuang jauh dari rumah kita atau kantor kita tanpa memikirkan bagaimana proses pembuangannya? Atau bahkan tidak memikirkan dampak besar dari sampah yang telah kita hasilkan.

Hal tersebut belum sampai pada proses pengurangan sampah yang sebenarnya sudah ada diamanatkan dalam undang-undang 18/2008 tentang pengelolaan sampah. Dari hal ini Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) bekerjasama dengan Direktorat Jendral Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta berkolaborasi dengan Global Aliance for Incenerator Alternative (GAIA),  Pemprov Jabar, Pemkot Bandung, Pemkot Cimahi, dan Pemkab Bandung ini mengadakan International Zero Waste City Conference (IZWCC) 2018.

International Zero Waste City Conference ini diadakan selama 3 hari dari tanggal 5-7 Maret 2018. Ketua panitia IZWCC 2018, Ria Ismaria mengatakan kegiatan ini merupakan upaya untuk memperkenalkan serta mendorong diterapkannya konsep zero waste cities untuk masalah pengelolaan sampah sekaligus membangun perekonomian kota dengan model circular economy. Selain itu, dalam konferensi ini bertujuan juga menghadirkan persfektif baru untuk para pengambil kebijakan kota dalam hal pengelolaan sampah yang terintregrasi dengan peningkatan ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.

IZWCC 2018 mengusung tema Circular City adalah Kota Masa Depan” depan ini ingin mengajak para pemimpin dan perangkat daerah untuk bersama-sama mencari solusi terhadap masalah sampah yang terjadi serta menciptakan kota yang berkelanjutan.
Froilan Grate, Koordinator GAIA Asia Pasifik memaparkan bahwa sistem zero waste ini sangat penting dan akan bekerja secara efektif dalam skala bisnis baik besar atapun kecil, organisasi, global dan individu.

Dalam kegiatan IZWCC 2018 ini dibagi menjadi beberapa kegiatan yang berlangsung di kota Bandung, Cimahi dan Soreang.
1.            Plenary Conference (Hotel Papandayan)
Merupakan kegiatan diskusi pleno yang memberikan rangkuman  untuk beberapa rangkaian kegiatan dalam IZWCC 2018.
2.            City Leader Forum (Hotel Papandayan)
Forum yang ditujukan untuk para pemimpin kota, yang selama ini menggunakan sistem ekonomi linear. Dalam forum ini, para pemimpin kota diajak untuk mengeksplorasi model-model kepimpinan yang sudah berhasil diterapkan di beberapa negara.
3.            City Manager Forum (Cimahi - Technopark) dan Village Manager Forum (Gedung Sabilulungan)
Forum yang berfokus pada manager kota yang dalam hal ini adalah kepala desa,kepala bidang dan kepala seksi di SKPD(Satuan Kerja Perangkat Dinas). Dalam forum ini, para manager kota ini diajak mengeksplorasi aspek teknis implementasi yang telah berhasil dilakukan di beberapa negara.
4.            City Society Forum (Ecocamp)

Pada kegiatan IZWCC 2018, pembicara yang hadir dari berbagai negara ini
  1. Jack Macy - San Francisco Environment
  2. Dr. V. Vasuki - Trivandrum City, Kerala
  3. Flore Berlingen - Zero Waste Europe
  4. Aileen Lucero - Eco Waste Coaliton
  5. Sonia Mendoza - Mother Earth Foudation
  6. Theeban Gunasekaran - Consumers Association of Penang
  7. Kripa Ramachandran - Citizen Consumer and Civic Action Group
  8. Benedict Jasper Simon Ramos Lagman - City of San Fernando
  9. Pratibha Sharma - GAIA
  10. Froilan Grate - GAIA
  11. Rahyang Nusantara - Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik
  12. Faye Ferrer - Health Without Harm Asia
  13. Xavier Sun - Wild Heart Taiwan
  14. Raju S. - Climate Action Thanal
  15. Dadang M. Nasher - Bupati Kabupaten Bandung
  16. Ajay M. Priatna - Walikota Cimahi

Para pembicara tersebut memaparkan terkait kegiatan yang dilakukan di negaranya masing-masing untuk pengurangan sampah yang diangkut ke TPA dan cara tersebut relative mudah dilakukan. IZWCC 2018 ini dihadiri hamper 500 orang dari berbagai kalangan termasuk dari perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dari berbagai kota di Indonesia.
Selain forum yang ada, para peserta dari IZWCC 2018 ini pun diajak melihat contoh nyata kegiatan di Bandung, Cimahi dan Soreang.