Welcome to our website !

Selain upaya pengurangan sampah yang dibahas di hari pertama (8 September 2020) dalam rangkaian acara webinar Forum Daerah Bebas Plastik, inisiatif dalam upaya penanganan pun telah dilakukan di beberapa daerah. Target penanganan sampah nasional adalah 70% di tahun 2025.

“Di kota Bandung kita sudah bergerak melakukan pengumpulan terpilah melayani dari 8 ribu jiwa di tahun 2018, sekarang sudah melayani 25 ribu jiwa. Untuk Cimahi dari 8 ribu jiwa sudah mencapai 19 ribu jiwa di tahun 2019.  Tingkat partisipasi pemilahan, yang merupakan kunci untuk mencapai circular economy, di Kota Bandung mencapai rata-rata 37% sedangkan di Kota Cimahi mencapai rata-rata 63%. Sedangkan pengurangan sampah ke TPA dari area yang sudah melakukan pengumpulan terpilah di Kota Bandung mencapai 23% dan Kota Cimahi mencapai 35%,” papar David Sutasurya, Direktur Eksekutif YPBB.

 

Cimahi dan Bandung, sejak tahun 2017 menerapkan menjadi model Zero Waste Cities yang dikembangkan YPBB.Program Zero Waste Cities adalah pengembangan sistem pengumpulan sampah terpilah dan pengolahan sampah secara holistik dan berkelanjutan. Meliputi aspek edukasi, operasional, kelembagaan, regulasi, dan pembiayaan.

 

Di Kota Bandung, Zero Waste Cities dikenal dengan Gerakan Kang Pisman (singkatan dari Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) yang dicanangkan sejak tahun 17 Oktober 2018 oleh Pemerintah Kota Bandung. Saat ini sudah ada total 143 Kawasan Bebas Sampah di Kota Bandung yang sudah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, menurut pemaparan Dr.Kamalia Purbani MT , Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung.

 

Persoalan sampah tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan terpisah dengan isu lainnya. “Gerakan Kang Pisman tidak lagi menjadi gerakan sektoral tapi akan dikaitkan dengan ketahanan pangan,” tutur Kamalia. Gerakan Kang Pisman berkolaborasi dengan Gerakan Buruan Sae (buruan adalah halaman dalam bahasa Sunda) atau  program Waste to Food.

 

Sedangkan di Kota Cimahi program Zero Waste Cities dikenal dengan Program Cimahi Barengras (Bareng-bareng Kurangi Sampah), dengan filosofi logo 3R (reduce, reuse, recycle) dan matahari di tengahnya yang bisa membuat dunia bengras atau terang.

 

Menurut Muhammad Ronny, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, tantangan tahun ini program terpaksa tertunda karena adanya refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19. Walaupun ada keterbatasan anggaran, Kota Cimahi saat ini tetap menerapkan program Cimahi Barengras dengan fokus di 5 RW sekitar TPS3R Melong RW 31.

 

Tiga kekuatan penting dari program Zero Waste Cities menurut Prigi Arisadi, perwakilan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), yaitu munculnya informasi karakter sampah sehingga bisa mengetahui bagaimana sebaiknya penanganan sampah di suatu wilayah. Kekuatan kedua adalah dilakukannya edukasi rumah ke rumah sehingga ada peluang untuk melibatkan masyarakat dan berkontribusi. Ketiga, kebersamaan karena adanya proses pembentukan komite pengelolaan sampah. Setiap level di desa punya kesempatan untuk kontribusi ide, material untuk pengurangan sampah di wilayah.

 

Selain Kota Bandung, Kota Cimahi, Kecamatan Soreang, model Zero Waste Cities ini juga sudah mulai dikembangkan di Kabupaten Gresik (bekerjasama dengan Ecoton), Denpasar (bekerjasama dengan PPLH Bali), dan Medan (bekerjasama dengan Walhi Sumatera Utara) sejak tahun 2019. Di Jawa Barat, tahun ini Zero Waste Cities rencananya akan dikembangkan ke beberapa kota di sekitar Citarum. “Kita coba kembangkan model-model lebih banyak di Citarum. Ini kontribusi kami untuk mendukung target pemerintah provinsi dan pusat untuk Citarum,” tutur David.

 

Pola pengelolaan sampah saat ini yang bertumpu pada model kumpul angkut buang, akan menciptakan kebergantungan pada teknologi dan cara pengolahan padat modal yang dikembangkan di negara-negara kaya. Model Pengelolaan Sampah seperti Zero Waste Cities yang bertumpu pada pemilahan sampah dan pengolahan di skala lokal, justru berupaya untuk membuat kota-kota lepas dari metode pengelolaan sampah yang mahal. “Negara-negara berkembang, seperti Indonesia, harus menemukan model pengelolaan sampahnya sendiri, bukan meniru model yang sudah berkembang di negara-negara kaya,” kata David.

 

“Inisiatif Zero Waste Cities yang sedang dijalankan beberapa kota merupakan implementasi amanah Undang Undang nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Dan pencapaian target Jakstrada dan Jakstranas” menurut Ria Ismaria, Ketua Forum Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS)


Bagi kota/kabupaten lain yang tertarik, ingin mendapatkan penjelasan lebih jauh tentang bagaimana Zero Waste Cities dijalankan, sekaligus ikut serta di dalam jaringan kerja dan belajar, bisa mengisi form berikut http://bit.ly/FormKetertarikanZWCPemda.

 

Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB), dan Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) menyelenggarakan Forum Daerah Bebas Plastik pada tanggal 8-9 September 2020. Kegiatan ini diselenggarakan secara virtual melalui Zoom Webinar dan YouTube. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi narahubung Melly (+62 821 2600 3635)

 

 “Sepatu boots” adalah jawaban paling banyak dilontarkan para petugas pengumpul sampah ketika ditanya benda yang paling disukai dari paket yang dibagikan. “Untuk pengangkutan sampah biar tidak ketusuk seperti tusukan sate”, alasan yang dilontarkan oleh Juhana, petugas pengumpul sampah RW 07 Padasuka, Kota Cimahi. “Untuk keselamatan kerja,” ucap Cucu, petugas pengumpul sampah RW 03 Cibeber, Kota Cimahi.

Juhana, petugas pengumpul sampah RW 7 Padasuka Cimahi

Paket yang dibagikan kepada 228 petugas pengumpul sampah tersebut berisi satu pasang sepatu boots, satu botol sabun cuci tangan, lima kilogram beras, dan dua liter minyak goreng. Mereka adalah para petugas pengumpul sampah di wilayah dampingan YPBB yang tersebar di Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung. 

Paket gelombang ketiga bagi petugas pengumpul sampah RW

Kali ini penerima pembagian paket adalah para petugas pengumpul sampah RW yang telah menerapkan tahapan Program Zero Waste Cities. Mereka terpilih menerima paket sebagai apresiasi karena konsistensinya melakukan pengumpulan terpilah. Harapannya dengan penggalangan dana ini kesehatan dan kesejahteraan petugas pengumpul sampah tetap mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak (terutama pemerintah). Dan mereka tetap bisa bekerja membantu masyarakat dalam pengumpulan sampah secara terpilah dari rumah ke rumah. Sehingga kinerja pengelolaan sampah semakin baik dan bisa berkelanjutan.


Pembagian paket tersebut merupakan bagian dari rangkaian donasi yang mulai terkumpul di bulan yang sama sejak pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia. Dua gelombang pembagian paket donasi sudah dilakukan sejak 26 Maret 2020. 


Gelombang ketiga ini mendapat dukungan Emergency Solidarity Fund dari GAIA (Global Alliance for Incinerator Alternatives). Dana tersebut digalang dengan kesadaran bahwa para petugas pengumpul sampah adalah sektor pekerja informal yang harus tetap bekerja dan beresiko terpapar Covid-19 selama pandemi. Dukungan dana juga berasal dari Explorekeun yang tergerak akan kondisi petugas pengumpul sampah. Selain itu juga ada sisa donasi dari gelombang kedua. Total terkumpul untuk gelombang kali ini adalah Rp 56.081.603,-. Pembagian paket donasi dilakukan di rentang 9 - 22 Agustus 2020.

 

“Program ini dilakukan karena pemerintah belum hadir di sektor pengumpulan. Sektor yang justru paling krusial kalau kita mau mencegah sampah masuk sungai. Kehadiran sistem pemerintahan di pengumpulan secara bertahap sedang diuji coba di kota Bandung dan Cimahi. Mulai dengan PERDA baru yang sudah selesai, dan sekarang ke tahap penyiapan aturan teknis dan uji coba di dua kelurahan di setiap kota. Kalau proses ini berhasil, ke depan APD petugas tidak perlu mengandalkan donasi lagi,” menurut David Sutasurya, Direktur Eksekutif YPBB.


Peraturan Daerah Kota Bandung No.9 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Daerah Kota Cimahi No. 6 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah sudah menyebutkan tentang sertifikasi petugas sampah dalam pasalnya.


Saat ini petugas pengumpul sampah di Indonesia masih merupakan pekerja informal. Kondisi ini tidak memungkinkan para pengumpul sampah mencapai standar kerja yang cukup, termasuk standar keselamatannya. Juga tidak memungkinkan pemerintah menerapkan kebijakan yang dapat memastikan kesejahteraan para petugas ini.


Pemerintah kota/kabupaten perlu mulai mengembangkan kebijakan pembiayaan yang dapat mendanai pengelolaan sampah yang tepat, termasuk petugas pengumpul sampah bisa dibayar layak. Pendapatan petugas sampah di Kota Bandung dan Kota Cimahi di rentang 300 ribu sampai tidak lebih dari dua juta rupiah per bulan. Tanpa ada jaminan kesehatan dan keselamatan kerja.

 

Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi sudah menganggarkan untuk uji coba penerapan pengumpulan sampah terpilah dari sumber di dua kelurahan. Anggaran tersebut kemudian direalokasi untuk penanganan situasi darurat Covid-19. Sehingga rencana penerapan di Kelurahan Cibabat dan Kelurahan Pasirkaliki, Kota Cimahi, terpaksa mundur dan akan dilakukan di tahun 2021. 


Di Kelurahan Sukamiskin dan Kelurahan Cihaurgeulis, Kota Bandung, masing-masing petugas mendapat insentif sebesar Rp 1.250.000,- dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung untuk melakukan pengumpulan terpilah. Kebijakan ini berlaku selama satu tahun di kedua kelurahan model tersebut. Kelurahan Neglasari berinisiatif memberi insentif untuk pengawas petugas pengumpul dan pengelola sampah kelurahan.


Perhatian terhadap petugas sampah sudah mulai dilakukan di Kota Bandung dan Kota Cimahi, walaupun masih terbatas di kelurahan model. Kebijakan pembiayaan tersebut masih bersifat temporer, belum bisa terjamin keberlanjutannya. Perjalanan masih panjang dalam mensejahterakan petugas sampah dan memastikan keselamatan kerjanya.


Info lebih lanjut dapat menghubungi Abdullah (0812-2617-1939). Dokumentasi foto kegiatan distribusi paket terdapat disini: Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung.



Sampah menjadi isu yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Semua lapisan masyarakat merasakan langsung dampak yang ditimbulkan bila sampah tak terkelola dengan tepat. Mulai dari sebatas pemandangan yang tak sedap akibat tumpukan sampah liar, hingga bencana banjir. Tidak lupa, lebih dari satu decade yang lalu pun pernah terjadi bencana yang tidak terbayangkan sebelumnya; peristiwa longsornya TPA Leuwigajah di Kota Cimahi.
Perbaikan Sistem Pengelolaan Sampah Sebagai Bentuk Pelayanan Publik
Sistem pengelolaan sampah yang saat ini berjalan di tengah masyarakat merupakan salah satu bentuk pelayanan publik pemerintah kepada masyarakat. Peristiwa longsornya TPA Leuwigajah telah cukup memberikan gambaran, betapa pentingnya pengelolaan sampah yang terintegrasi. Dalam hal ini, Kepala DInas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Muhamad Ronny, menyatakan keteguhannya untuk pengelolaan sampah yang lebih baik. “Kami berkomitmen dalam pengelolaan sampah di kawasan, terutama dalam hal pengurangan sampah…”
(Petugas Patroli Lingkungan Hidup (Patih) DLH Cimahi saat sedang memonitor pemilahan sampah dari rumah warga.)
Komitmen serupa pun datang dari Kepala Bidang DLHK Kota Bandung, Sopyan, yang memang sudah menjadikan isu pengelolaan sampah sebagai fokus utama. Sopyan mengungkapkan, DLHK sedang mencoba melakukan peningkatan pelayanan pengelolaan sampah, diantaranya dengan mengoptimalkan pengumpulan terpilah dari rumah. Lebih lanjut, akan ada integrasi pada keseluruhan sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung, mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga fasilitas operasional pendukung seperti TPS. “Selama ini masih ada yang bolong dalam sistem, itu yang perlu dilengkapi...”
Alasan Kuat Dibalik Komitmen Pengelolaan Sampah
Sopyan mengungkapkan bahwa pihak pemerintah memiliki beragam alasan untuk menjalankan perbaikan pengelolaan sampah. Ia menekankan, alasan yang paling utama adalah karena tingginya biaya operasional pengangkutan, mengingat Kota Bandung tidak memiliki TPA. Sopyan juga memprediksi akan adanya kenaikan biaya operasional dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, yang disebabkan oleh pemindahan TPA ke Legok Nangka.
Sopyan juga menambahkan bahwa setidaknya 50% sampah yang dibuang ke TPA adalah sampah organis. Ia yakin, jika jumlah sampah organis dapat dikelola di wilayah, maka akan mengurangi beban pembuangan ke TPA. Senada dengan Sopyan, Kepala PD Kebersihan, Gun Gun Saptari, juga yakin bahwa sampah memang sudah seharusnya ditangani sejak dari sumber. “Pola campur kumpul, angkut buang, bukan solusi yang terbaik… kita gak mungkin terus andalkan TPA…”
(Kondisi sampah di TPA Sarimukti yang makin bertambah dari hari ke hari)

Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat untuk Mendukung Perbaikan Pengelolaan Sampah ?
Pemerintah, baik di Kota Bandung dan Kota Cimahi, saat ini sedang berusaha untuk memperbaiki pengelolaan sampah. Perbaikan ini mulai dari tata kebijakan seperti JAKSTRANAS dan JAKSTRADA, peningkatan operasional pengelolaan sampah, hingga penyediaan fasilitas pendukung pengelolaan sampah. Selagi pemerintah berupaya untuk meningkatkan pelayanan mereka, kita sebagai masyarakat diajak untuk melakukan upaya sederhana di rumah; pemilahan sampah. Sopyan berujar “… Untuk dukung sistem ini, masyarakat cukup melakukan pemilahan sampah saja, selagi pemerintah meningkatkan perannya (dalam pengelolaan sampah)…”.
(Pemilahan dari rumah mempermudah pengelolaan sampah selanjutnya)

Yuk pilah sampah dari rumah!

Kepedulian akan kebersihan lingkungan dan gaya hidup yang minim sampah mulai diminati oleh banyak kalangan. Bukan hanya anak muda, ibu-ibu juga mulai mempelajarinya karena mereka sadar bahwa sebagai “ibu-ibu”, mereka memiliki peran yang sangat penting dalam mengelola sampah yang berasal dari rumah mereka. Dalam satu kesempatan, ibu-ibu kader Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, melaksanakan kegiatan pelatihan Zero Waste Lifestyle


Kelurahan Sadang Serang adalah salah satu kelurahan dampingan YPBB dalam program Zero Waste Cities. Program ini telah berjalan di beberapa RW di Kota Bandung, dan kali ini giliran ibu-ibu PKK Kelurahan Sadang Serang yang ingin lebih mengetahui bagaimana caranya menjalankan gaya hidup yang minim sampah. 

Cerita tentang pelatihan Zero Waste Lifestyle ini dapat disimak lebih lengkapnya di tulisan Berta Liandri (Staf Magang Divisi Kampanye Kebijakan Organis YPBB), pada link berikut ini. Foto-foto kegiatan hasil dokumentasi Abdullah Siregar (Staf Magang Divisi Kampanye Zero Waste) dapat dilihat pada link berikut ini.   

Suasana Pelatihan Zero Waste Lifestyle

Foto Bersama Dengan Ibu-Ibu PKK Kelurahan Sadang Serang
Satu lagi Pelatihan Zero Waste Lifestyle yang dilaksanakan bersama ibu-ibu PKK adalah Pelatihan Zero Waste Lifestyle di PKK Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Pelatihan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 12 Maret 2020, bertempat di Gedung Serba Guna RW 14 Sekeloa. Kelurahan Sekeloa juga adalah kelurahan yang masih didampingi YPBB dalam penerapan tahapan-tahapan Zero Waste Cities. Foto-foto kegiatan dapat dilihat disini.
Dalam kondisi pandemi Covid-19 pada saat ini, layanan Pelatihan Zero Waste Lifestyle secara tatap muka kepada Mitra YPBB, baik dari dampingan Program Zero Waste Cities maupun diluar program tersebut, untuk sementara ini ditiadakan. Pelatihan akan kembali berjalan rutin setelah kondisi membaik dan dirasa memungkinkan. Nantikan selalu informasi tentang Pelatihan Zero Waste Lifestyle YPBB versi online, di media sosial YPBB, salah satunya melalui Instagram YPBB: @ypbbbandung
Konsultasi seputar Pelatihan Zero Waste Lifestyle tetap dapat Anda lakukan melalui kontak Pengelola Program Trainer YPBB di email trainer@ypbb.or.id


Salam Organis! :)


Peringatan Hari Kesehatan Internasional yang ditetapkan setiap tanggal 7 April mengandung pesan mendalam, apalagi perayaannya bertepatan dengan meluasnya pandemi COVID-19. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Tenaga medis seperti dokter, perawat, hingga bidan adalah segelintir peran kunci dibalik tingginya kesehatan masyarakat.

Ketika berbicara tentang kesehatan, kondisi lingkungan memegang pengaruh besar terhadap kesehatan masyarakat. Seperti yang kita ketahui, kondisi lingkungan saat ini mulai memburuk seiring dengan munculnya polusi, salah satunya polusi plastik. Gaya hidup Zero Waste atau yang biasa dikenal dengan gaya hidup minim sampah, merupakan solusi pilihan masyarakat untuk mengembalikan kondisi lingkungan yang memburuk dari polusi plastik. Menariknya, gaya hidup Zero Waste juga menarik hati para tenaga kesehatan, seperti bidan dan perawat.

Di kesempatan ini, kami telah mewawancarai beberapa tenaga medis seputar penerapan gaya hidup Zero Waste di kehidupan sehari-hari. Kami mewawancarai Lita, Dewi, dan Ikka yang berprofesi sebagai bidan, serta Tita yang berprofesi sebagai perawat.

Lita, Ikka, dan Dewi telah menerapkan hidup Zero Waste dalam keseharian mereka, dan bisa menjadi inspirasi untuk kita. Bagi Lita dan Ikka, alasan utama memulai Zero Waste yaitu akibat dari kekhawatiran akan banyaknya sampah yang terangkut ke TPA. Lain halnya bagi Dewi dan Tita, mereka mengaku khawatir dengan beban pengumpul sampah jika sampah semakin banyak, sehingga ia mulai memilah.

Metode pemilahan yang mereka lakukan sangat beragam, dari mulai pemilahan sederhana antara organik dengan anorganik, hingga memilah sampai lebih lebih detail. Sebagai contoh, Lita memilah sampahnya menjadi 5 jenis. Pemisahan terdiri dari 1 wadah organik, 1 wadah kertas & kardus, 1 wadah sampah daur ulang, 1 wadah sampah B3, dan 1 wadah sampah residu.

Untuk menangani sampah organik para bidan inspiratif ini menggunakan beberapa metode yang dapat diterapkan di rumah masing-masing. Dewi awalnya menggunakan lubang biopori hingga akhirnya memutuskan untuk membuat lubang kompos karena semakin banyaknya sampah organik yang dihasilkan di rumahnya. Berbeda dengan Dewi, Tita memilih bata terawang untuk mengelola sampah organik di rumahnya. Variasi lebih banyak dilakukan oleh Lita untuk urusan mengompos, yaitu menggunakan keranjang takakura, biopori dan gerabah.

Keranjang Takakura
(Dokumentasi Lita)

Gaya hidup zero waste yang diterapkan bidan-bidan ini tidak sampai hanya memilah sampah di rumah saja, ada upaya lain untuk mengurangi sampah yang dihasilkan setiap harinya. Beberapa yang menjadi contoh  adalah membawa wadah makanan dan minuman sendiri, sapu tangan, reusable bag, mengurangi belanja online karena akan menghasilkan sampah dari kemasan yang dikirim. Dari hasil sharing kita dengan para bidan masih banyak upaya-upaya yang bisa dilakukan, seperti :
1.    Membawa tas reusable sebagai upaya pengurangan plastik sekali pakai.
2.    Membawa wadah sendiri atau membuat sendiri bekal makan siang untuk menghindari jajanan berkemasan sekali pakai.
3.    Mencoba menstrual cup untuk pengurangan pemakaian pembalut
4.    Menggunakan sapu tangan sebagai pengganti tisu.
5.    Belanja tanpa kemasan sama sekali, belanja di bulkstore.
6.    Mulai beralih menggunakan bahan alami untuk personal care seperti deodorant, sabun tanpa kemasan dan shampo alami. 
7.    Berusaha memilah sampah. Sampah anorganik disetor ke bank sampah. Sampah organik dikomposkan.
8.    Melakukan rutin food preparation, lalu regrow tanaman.
9.    Decluttering baju lalu mendonasikannya.
10.  DIY pembersih seperti eco-enzyme, sabun cair lerak, cuci piring dari kulit jeruk, infused cuka, dll. 
11.  Rutin membersihkan rumah dan memilah barang yang tidak perlu.
12.  Reparasi barang yang rusak.



Beberapa contoh upaya mengurangi sampah oleh Lita

Lita, Ikka, Dewi, dan Tita mengaku bahwa membagi waktu antara mengelola sampah dengan pekerjaan dan kegiatan lainnya, bukan hal yang sulit. Sepulang dari puskesmas, Dewi meluangkan waktu untuk mengelola sampahnya. Demikian pula bagi Tita dan Ikka yang mengaku sudah cukup terbiasa untuk mengelola sampah, sehingga tidak mengalami kendala yang berarti. Sementara itu, Lita cukup telaten dalam mengelola sampahnya, hingga berbagi tugas dengan suaminya perihal mengaduk Takakura!

Mari ikuti jejak inspiratif mereka dengan menerapkan pengelolaan sampah dari sumber! Bisa dimulai dengan memisahkan material organik dan non organik, lalu mulai mengompos dengan Takakura, lubang biopori, atau lubang kompos. Yuk praktikan!