Welcome to our website !

RW 07 Lebak Gede adalah RW pertama di Kelurahan Lebak Gede yang menjalankan tahapan program Zero Waste Cities (ZWC). Selain dari dukungan positif dari  Lurah dan Camat, RW 07 Lebak Gede juga mendapatkan support dari Ketua RW yang perhatian terhadap program serta mendukung dijalankannya tahapan ZWC di RW tersebut. 

RW 07 Lebak Gede memiliki taman di tengah kota yang sudah menggunakan sistem pengomposan (open windrow). RW 07 Lebak Gede (bersama dengan 2 RW lainnya di Kelurahan Lebak Gede: RW 01 & 11) juga sudah memiliki peralatan kebersihan seperti ember pemilahan dan gerobak sampah (push chart), yang didapatkan dari Hotel Patra Jasa sebagai bentuk tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan untuk tiga wilayah RW terdekat dengan hotel tersebut.

Pada hari Sabtu, 24 Agustus 2019, dengan dihadiri Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat , petugas kebersihan, para kader dan staf Kasi Ekbang Kelurahan Lebak Gede, diadakanlah Pelatihan Zero Waste Lifestyle yang bertempat di Aula RW 07 Lebak Gede. Pelatihan ini diadakan dengan tujuan sebagai penguatan pemahaman warga tentang gaya hidup minim sampah di wilayah dampingan YPBB tersebut.


 Suasana Pelatihan ZWL RW 07 Lebak Gede

Trainer ZWL YPBB, Perswina Alaili (Wina)

Trainer ZWL YPBB, Ridho Tadjudin (Ridho)

Cerita selengkapnya tentang pelatihan ini dapat disimak dari tulisan dua teman kita, M. Dera Purdiansyah (Staf Magang KKO YPBB) disini dan Nur Septiani Hayati (Staf KKO YPBB) disini.
Foto-foto kegiatan hasil jepretan Dera & Epi dapat dilihat pada link berikut: disini

Apabila Anda adalah individu atau lembaga yang ingin mengadakan pelatihan serupa di wilayah Anda, permohonan kemitraan Pelatihan Zero Waste Lifestyle dapat diajukan ke: bit.ly/FormulirMitraZWL

Informasi, pertanyaan dan konsultasi lebih lanjut seputar Pelatihan ZWL dapat diajukan ke email: trainer@ypbb.or.id

Jangan lupa untuk terlebih dahulu mempelajari Proposal Pelatihan ZWL disini dan Kerangka Acuan Pelatihan ZWL disini. 

Salam Organis! :)


Foto peserta dialog antar-pihak dengan tema “Kualitas Hidup dan Keselamatan Kerja Petugas Pengelolaan Sampah” yang diselenggarakan Forum BJBS, Hari Sabtu, 14 September 2019, di RW 09 Kelurahan Sukaluyu.
(Sumber : Dokumentasi YPBB)
Pada hari Sabtu, 14 September 2019, Forum Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS) menggelar dialog antar-pihak dengan tema “Kualitas Hidup dan Keselamatan Kerja Petugas Pengelolaan Sampah”. Kegiatan ini berlangsung di Taman Lansia RW 09 Sukaluyu, Jl. Jalaprang, Bandung. Penyelenggaraan acara dialog ini merupakan salah satu bentuk tindak lanjut nyata atas kepedulian pegiat lingkungan di Bandung mengenai keselamatan kerja petugas pengelola sampah.

Seperti yang diketahui sebelumnya, RW 09 Sukaluyu kehilangan salah seorang anggota pengelola sampah di wilayahnya, yaitu Hermawan, akibat infeksi bakteri dari luka terkena sampah tusuk sate. Hermawan merupakan seorang pengemudi motor sampah yang dioperasikan untuk mengantar sampah ke TPS terdekat. Ia tak sengaja menginjak sampah tusuk sate, dan nyawanya tak tertolong lagi akibat terlambat mendapat penanganan medis. Kejadian tersebut sangat menarik perhatian, hingga diadakan crowdfunding donasi untuk keluarga almarhum Bapak Hermawan.

Penyerahan dana donasi crowdfunding Kitabisa.com untuk perwakilan keluarga almarhum Bapak Hermawan, diwakili oleh istri mendiang (ketiga dari kanan).
(Sumber : Dokumentasi YPBB)
 Acara dialog yang diselenggarakan Forum BJBS hari itu, dibuka dengan sambutan serta doa bersama untuk almarhum Bapak Hermawan, dipimpin langsung oleh Ketua KBS Sapujagat, Bapak Komar. Kemudian, acara dilanjutkan dengan penyerahan dana hasil crowdfunding yang terkumpul kepada keluarga almarhum Bapak Hermawan. Suasana penyerahan donasi tersebut seketika diwarnai haru dari istri almarhum Bapak Hermawan.

Setelah rangkaian acara pembuka selesai, acara inti berupa dialog antar-pihak pun dimulai. Pihak-pihak yang berpartisipasi pada acara tersebut yakni perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Ketua PD Kebersihan Kota Bandung, perwakilan KBS (Kawasan Bebas Sampah) Kota Bandung, Lurah dan Camat 8 Kelurahan Model Program Zero Waste Cities, perwakilan Dinas Kesehatan Kota Bandung, dan pegiat lingkungan Kota Bandung. Dialog dimulai dengan pemaparan gambaran pengelolaan sampah saat ini, baik dari sudut pandang RW sebagai warga masyarakat, maupun Camat/Lurah sebagai stakeholder setempat. Secara umum, kondisi pengelolaan sampah saat ini masih dalam skema kumpul-angkut-buang, dimana petugas pengumpul menjadi salah satu pihak yang terbebani karena sampah dalam keadaan tercampur, lalu harus memisahkan sendiri sampah yang dapat dijual dari sampah residu.

Suasana dialog antar-pihak dihadiri oleh (dari kanan ke kiri) David Sutasurya (YPBB), Ria Ismaria (BJBS), Rohandi (Kasie Ekbang Kecamatan Bandung Kidul), Pengurus RW 09, Bijaksana Junerosano, Iqbal (Kitabisa.com), Kamalia Purbani (Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung).
(Sumber : Dokumentasi YPBB)

Sementara itu, dari pihak Kecamatan Bandung Kidul, Bapak Rohandi, selaku Kasie Ekbang, menyampaikan bahwa Camat setempat sudah mengeluarkan surat perintah bagi ASN (Aparatur Sipil Negara) tingkat Kecamatan dan Kelurahan Bandung Kidul untuk ikut serta berpartisipasi dalam sosialisasi ke masyarakat dan menerima keluhan ataupun laporan dari masyarakat. Di sisi lain, pihak Kecamatan Kiaracondong, Ibu Tia, menyampaikan bahwa pihak kecamatan dalam waktu dekat akan melakukan kerjasama dengan puskesmas setempat untuk mendukung kesejahteraan hidup petugas pengelola sampah.

Selaku perwakilan Dinas Kesehatan Kota Bandung, Bapak Yadi menyampaikan bahwa ia sepakat atas dukungan kesejahteraan hidup petugas pengelola sampah, terutama dari sisi kesehatan. Fasilitas kesehatan untuk pengelola sampah sebagai pekerja informal, menurut Pak Yadi, peraturannya sudah tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 100 Tahun 2015, yaitu mengenai fasilitas pos UKK (Unit Kesehatan Kerja) bagi pekerja informal. Konsep pos UKK yaitu dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat, serta puskesmas harus bekerjasama dengan kewilayahan setempat. Menurut Bapak Yadi, idealnya setiap kelurahan memiliki minimal 1 UKK, yang menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis kepada pekerja informal, juga screening potensi penyakit yang diakibatkan oleh jenis pekerjaan dari pekerja.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Kamalia Purbani, tengah memberikan pandangan terkait tata kelola persampahan di Kota Bandung.
(Sumber : Dokumentasi YPBB)

Berbicara mengenai kesejahteraan, di samping perihal kesehatan, berarti juga perihal kesejahteraan pendapatan yang diterima pengelola sampah. Perwakilan Gober (gorong-gorong bersih) menyampaikan dalam forum, bahwa kendala yang dihadapi dalam pekerjaan adalah pendapatan yang tidak seimbang dengan resiko kesehatan dari pekerjaan. Belum lagi, harus menanggung keluarga, seringkali pendapatan yang diterima belum cukup.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Ibu Kamalia Purbani mengakui bahwa tata kelola persampahan di Kota Bandung, khususnya mengenai besaran retribusi dinilai belum sepadan untuk peningkatan pengelolaan sampah. “Biaya retribusi dengan besaran seperti sekarang, menjadikan beban biaya operasional persampahan yang ditanggung pemerintah sangat besar karena biaya retribusi saja belum cukup menanggungnya”. Isu-isu seperti ini, menurutnya pun harus diinformasikan kepada khalayak, agar kepedulian terhadap kemajuan Kota Bandung dapat tumbuh dalam diri warga masyarakat, tidak peduli tingkat pendidikannya.

Menanggapi hal tersebut, pendiri YPBB, David Sutasurya, mengungkapkan bahwa kondisi tata kelola persampahan yang kini belum dapat menangani sampah dan menjamin kesejahteraan pengelola sampah perlu segera diperbaiki dari segi kebijakan. Selagi perbaikan kebijakan dilakukan, masyarakat dapat ikut serta dalam inisiasi tata kelola sampah yang lebih baik melalui pemilahan di rumah. Dengan memilah sampah dari rumah, masyarakat dapat membantu pengelola sampah terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya akibat sampah.

Saat ini, RW 09 Sukaluyu, area kerja almarhum Bapak Hermawan, sudah giat melakukan pemilahan sampah dari rumah dalam program Zero Waste Cities. Sampah diangkut secara terpilah dari rumah ke rumah, sehingga menurunkan potensi pengelola sampah terjangkit penyakit atau terluka akibat sampah tercampur. Konsep program tersebut adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan kewilayahan sebagai dukungan kesejahteraan dan keselamatan kerja petugas pengelola sampah. Yuk, kompak pilah sampah dari rumah!
Apakah Anda salah seorang yang gemar melahap sate? Makanan yang satu ini sering menjadi santapan bersama, apalagi ketika momen Idul Adha datang. Namun tahukah Anda, ada bahaya yang mengintai dari sate yang Anda santap? Tak hanya soal kandungan kolesterol dari daging yang menjadi bahan dasar sate, tetapi juga sampah tusuk sate yang dibuang begitu saja tanpa ada upaya pemisahan.

Ancaman bahaya dari sampah tusuk sate yang dibuang tanpa dipisahkan dari sampah lainnya tidak dapat dianggap sepele, terutama bagi petugas pengumpul sampah. Udin, petugas sampah di RW 09 Kelurahan Sukaluyu, Kota Bandung, mengaku sudah beberapa kali terluka akibat sampah tusuk sate yang tercampur diantara sampah lainnya. Beruntung, ia selalu sigap untuk pergi ke puskesmas atau rumah sakit terdekat setelah terkena tusuk sate, sehingga tidak berujung pada infeksi yang mengancam nyawa.



Udin, Petugas Sampah RW 09 Kelurahan Sukaluyu, Kota Bandung, pernah beberapa kali terluka akibat sampah tusuk sate dan jatuh sakit karena paparan aroma sampah tercampur.
(Sumber : Dokumentasi YPBB Bandung)

Lain cerita bagi rekan Udin sesama petugas pengumpul sampah, Hermawan, yang akhirnya harus kehilangan nyawa setelah terluka akibat tusuk sate. Berbeda dengan Udin yang sigap untuk segera mendapatkan pertolongan medis, Hermawan atau akrab disapa Wawan, membiarkan luka yang dideritanya sehingga mesti mengalami infeksi parah dan tak tertolong lagi. Hal yang sama pun terjadi pada Udung, petugas pengumpul sampah di Kelurahan Neglasari, yang juga kehilangan nyawa setelah 1 bulan menjalani perawatan di rumah sakit akibat terkena sampah tusuk sate.

Sebagai petugas pengumpul sampah, Udin mengaku, tusuk sate hanya salah satu ancaman dari sekian banyak resiko bahaya yang bisa mengancam kesehatan petugas. Disamping terluka akibat tusuk sate, Udin juga pernah mengalami penyumbatan saluran darah di otak yang mengakibatkan dirinya tak dapat bekerja hingga 1 bulan. Penyakit tersebut, menurut dokter yang menangani Udin, disebabkan oleh keseharian Udin yang mau tidak mau menghisap  dan terpapar aroma sampah tercampur.


Kosasih, Petugas Pengumpul Sampah RW 07 Kelurahan Padasuka, Kota Cimahi, sempat pincang akibat terkena tusuk sate.
(Sumber : Dokumentasi YPBB Bandung)


Sejalan dengan Udin, salah satu petugas sampah di RW 07 Kelurahan Padasuka, Kota Cimahi, juga membenarkan bahwa terdapat bahaya selain tusuk sate yang tak dipisahkan. Kosasih, atau akrab disapa Engkos, mengungkapkan bahwa ia pun pernah terluka akibat tusuk sate ketika sedang memilah sampah yang dapat dijual. Luka yang dialaminya menyebabkan ia harus berjalan pincang selama seminggu meski dalam masa pengobatan. Menurut Engkos, sampah lain seperti pecahan kaca atau keramik juga sama bahayanya dengan sampah tusuk sate.

Ancaman – ancaman tersebut tentu dapat dikurangi dengan upaya pemilahan sampah sejak dari rumah. Udin juga mengakui sangat setuju apabila rumah-rumah warga sudah memisahkan sampahnya, walaupun pada awalnya merasa kesusahan dalam teknis pengumpulan yang cenderung “merepotkan”.

Awalnya saya menentang program pemilahan di RW 09 Sukaluyu. Tapi, setelah jatuh sakit akibat sampah tercampur, saya jadi berpikir ulang kalau ternyata program ini juga sangat membantu saya (dalam segi kesehatan). Pesan saya untuk para warga masyarakat, kan sudah ada contoh-contoh petugas sampah yang meninggal akibat tercampur sampahnya, tolong bantu saya juga jangan sampai bernasib sama seperti mereka. Bantu saya dengan memilah sampah dari rumah.”

Yuk, mulai pisahkan sampah di rumah! Sebagai contoh, RW 09 Sukaluyu Bandung (area kerja Udin)  dan RW 07 Padasuka Cimahi (area kerja Engkos) sudah kompak memilah sampah mereka untuk membantu petugas sampah terhindar dari bahaya sampah tercampur. Bagi Anda yang belum tahu cara pemilahan sampah, dapat dilihat contoh pemilahan pada gambar dibawah ini.


Perwakilan lembaga dari delapan kota dan kabupaten mengaku siap melaksanakan program zero waste di daerah dampingannya masing-masing setelah mengikuti kegiatan Zero Waste Academy. Kota kabupaten tersebut adalah Denpasar, Gresik, Surabaya, Medan, Kepulauan Seribu, Cimahi, Bandung, dan Kabupaten Bandung.
Dari Bali, I Made Murah, S.Sos.MAP (Staf UPTD Pengelolaan Sampah, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Denpasar) menyatakan bahwa DLHK Kota Denpasar sangat mendukung program Zero Waste Cities karena TPA di kota Denpasar sudah kelebihan beban. Untuk mengatasinya, DLHK telah menunjuk Banjar Tohpati sebagai pilot project dan disana masyarakat akan diajak untuk memilah dari rumah. Anggaran untuk sarana dan prasarana telah disiapkan juga untuk program ini.
I Made Murah, S.Sos.MAP
Pernyataan DLHK Denpasar tersebut didukung pernyataan dari perwakilan Gringgo Bali, Ni Kadek Septiari (Community Engagement Officer), bahwa telah ada beberapa aturan pemerintah yang mendukung pelaksanaan program dan di Bali bisa masuk juga lewat aturan (awig-awig) di Desa Adat. 
Ni Kadek Septiari


“Pengelolaan sampah dari kawasan menurut saya tidak bisa ditawar lagi mengingat sampah semakin banyak dan sudah merusak ekosistem. Kami dari PPLH Bali sangat siap menjalankan di Denpasar dan LSM cukup kuat termasuk desa dan kepala dusun. Sarana dan prasarana tidak menjadi kendala”, menurut Catur Yudha Hariani, Direktur PPLH Bali.
Catur Yudha Hariani
Menambahkan pernyataan perwakilan dari Bali, Fajar Lukman Hakim (GIS and Community Development Officer, Gringgo) berkata bahwa kondisi dan data profil desa pilotnya sudah ada. Namun perlu dimatangkan lagi petugas lapangan untuk melakukan edukasi.
Fajar Lukman Hakim


Perwakilan dari Gresik mengenai kesiapannya menjalankan program Zero Waste Cities dilontarkan oleh Tonis Afrianto Kesekretariatan Ecoton, bahwa selama ini masyarakat membuang sampah secara tercampur dari rumah dan dipilah secara terpusat di TPS 3R. “Melalui program Zero Waste Cities kami akan berupaya untuk mengajak masyarakat untuk memilah sampah sumbernya.”
Tonis Afrianto
Pernyataan tersebut didukung oleh Bagus Ahmad Syihabul Millah, Kasie Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, yang menyatakan bahwa infrastruktur sampah telah tersedia di desa Wringin Anom mulai dari TPS 3R, petugas kebersihan dan iuran kebersihan. Di desa tersebut juga telah tersedia Perdes yang dapat mendukung pelaksanaan pengelolaan sampah dari kawasan.
Bagus Ahmad Syihabul Millah

Perwakilan dari Medan, Dana Prima Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Sumut, menyatakan bahwa untuk program Zero Waste Cities, banyak potensi tenaga dari relawan (NGO) yang sudah bersedia mendukung program pengelolaan sampah dari kawasan. Namun dibutuhkan ‘jendral’ yang dapat menjadi leader dari program ini dan sebaiknya walikota.
Dana Prima Tarigan

Menurut Muhammad Yamin Daulay SE, Staf Bidang Operasional Sampah Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Medan untuk memulai program Zero Waste Cities, perlu dicari kawasan yang lebih siap untuk menerima sebagai percontohan pengelolaan sampah dari kawasan.
Muhammad Yamin Daulay, SE

Selain mengikuti praktek tahapan-tahapan dalam program Zero Waste Cities, peserta juga akan bertemu dengan Walikota Bandung, Oded Muhammad Danial, hari Senin 8 Juli 2019 di Balai Kota Bandung pukul 13:00 WIB. Pertemuan tersebut bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya kerjasama dan dukungan pemerintah kota untuk menjalankan program Zero Waste Cities. Di Bandung program ini dikenal dengan Program Kang Pisman atau Kawasan Bebas Sampah (KBS).
Tentang Zero Waste Academy dan Program Zero Waste Cities
Bandung menjadi kota keempat yang menyelenggarakan Zero Waste Academy. Kegiatan serupa sudah dilaksanakan sebelumnya di Filipina dan Vietnam. Zero Waste Academy kali ini merupakan kerjasama GAIA (Global Alliance and Incinerator Alternatives) dan YPBB, didanai oleh USAID. Kegiatan ini berisi penjelasan dan praktek langsung mengenai tahapan-tahapan  dalam program Zero Waste Cities. Rangkaian kegiatan Zero Waste Academy berlangsung dari tanggal 29 Juni - 9 Juli 2019 di Kota Bandung dan Cimahi.
Lembaga-lembaga yang menjadi peserta rangkaian kegiatan Zero Waste Academy adalah Ecoton (Gresik), PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Bali, Walhi Sumatera Utara (Medan), Divers Clean Action (Kepulauan Seribu), Walhi Jawa Timur (Surabaya), dan Gringgo (Bali). Serta perwakilan dinas yang terkait pengelolaan sampah dari kota kabupaten di atas. 
Zero Waste Cities adalah program pengembangan model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi di kawasan pemukiman. Program Zero Waste Cities diinisiasi oleh Mother Earth Foundation di Filipina. YPBB telah mereplikasi dan menyesuaikan dengan kondisi di wilayah masing-masing sejak tahun 2017 di tiga kota, yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung. Tahun 2019 program Zero Waste Cities akan menambah lingkup kotanya ke Denpasar, dan Surabaya yang akan dijalankan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) serta Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).
Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat Kota/ Kabupaten. Bila diterapkan dalam skala luas, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kota/ Kabupaten, program ini diharapkan dapat membantu Kota/Kabupaten dalam mencapai target pengurangan sampah yang diamanatkan dalam Kebijakan Strategis Pengelolaan Sampah Nasional tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
YPBB adalah organisasi non-profit profesional berlokasi di Kota Bandung yang konsisten dalam mempromosikan dan mempraktekkan pola hidup selaras alam untuk mencapai kualitas hidup yang baik dan berkelanjutan bagi masyarakat. 


CP ZWA: Anilawati Nurwakhidin
Koordinator Zero Waste Academy - 081320375404

Link foto kegiatan: bit.ly/ZWAIndonesia2019_foto


AGENDA ZERO WASTE ACADEMY

Hari/ Tanggal
Hari Ke
Kegiatan/ Tema
Sabtu, 29 Juni 2019
0
Hari kedatangan peserta & Welcome Dinner
Minggu, 30 Juni 2019
1
Pembukaan, perkenalan peserta & orientasi pelatihan 
Senin, 1 Juli 2019
2
Tahapan Zero Waste Cities: Profiling
Selasa, 2 Juli 2019
3
Tahapan Zero Waste Cities: WACS & WABA 
Rabu, 3 Juli 2019
4
Tahapan Zero Waste Cities: APP 
Kamis, 4 Juli 2019
5
Desain Sistem Pengelolaan Sampah 
Jumat, 5 Juli 2019
6
Tahapan Zero Waste Cities: Konsultasi Sistem & Training
Sabtu, 6 Juli 2019
7
Tahapan Zero Waste Cities: DTDE (Door to Door Education)
Minggu, 7 Juli 2019
8
Tahapan Zero Waste Cities: DTDC (Door to Door Collection)
Senin, 8 Juli 2019
9
Pertemuan dengan Walikota Bandung
Selasa, 9 Juli 2019
10
Rencana Aksi, Evaluasi & Farewell Dinner
Waste Analysis and Characterization Study (WACS) atau yang biasa dikenal dengan Studi Komposisi dan Karakteristik Timbulan Sampah yaitu studi yang mengidentifikasi jenis sampah yang dihasilkan di kawasan pemukiman (rumah tangga), dengan sasaran untuk mengetahui jenis sampah apa saja yang perlu ditangani timbulannya. Dan Brand Audit atau biasa dikenal dengan audit merek sampah yang dihasilkan ini merupakan bagian dari WACS.

Kegiatan ini telah dilakukan selama 8 hari berturut-turut di Kelurahan Lebak Gede dari tanggal 25 Juni 2019 hingga 02 Juli 2019. Untuk kegiatan ini, kami mengambil sampel dari 70 kepala keluarga yang berada di wilayah RW 01 dan RW 07 Kelurahan Lebak Gede.

Pada kegiatan ini, YPBB meminjam lokasi UPT Unpad yang digunakan sebagai lokasi kegiatan pemilahan sampah yang telah diambil dari 70 kepala keluarga. Sampah dari responden ini kemudian dipilah kembali menjadi 85 jenis. 

Kegiatan WACS dan WABA ini sudah 5 kali YPBB lakukan, yaitu di kelurahan Sukaluyu, Kelurahan Babakan Sari, Soreang, Cimahi dan Kelurahan Gempol Sari. 

Data kegiatan ini nantinya akan digunakan untuk mendorong peningkatan kinerja pengurangan sampah dan akan digunakan untuk membuat sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan wilayah Kelurahan Lebak Gede.

Kegiatan ini bisa terlaksana berkat bantuan berbagai pihak yaitu 
1.UPT Unpad yang telah bersedia memberikan tempat untuk pelaksanaan kegiatan

2.Relawan yang tanpa lelah dan dengan ceria membantu YPBB dalam proses WACS dan WABA ini 

3.Masyarakat RW 01 dan RW 07 Lebak Gede yang sudah bersedia menjadi responden untuk kegiatan ini.


YPBB mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang diberikan pada pelaksanaan kegiatan WACS dan WABA di Kelurahan Lebak Gede ini. Semoga kegiatan ini bisa menjadi awal dari proses pengelolaan sampah yang lebih baik.

Untuk lebih lengkap terkait dengan kegiatan ini bisa mengunduh press release di sini


Suatu perubahan tak lepas dari adanya peran wanita, bahkan ada pepatah yang mengatakan “wanita sebagai pilar peradaban”. Wanita memiliki peran yang stategis dalam perubahan lingkungan, yang akan mengajarkan nilai budi pekerti kepada anak-anaknya untuk dapat bersikap baik dan itu semua dimulai dari rumah yang akan semakin luas mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

Ibu Kurniasari yang akrab dipanggil Ibu Nia merupakan salah satu warga di Cihaurgeulis yang mendukung program pemilahan sampah. Beliau senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya tentang membuang sampah sesuai dengan jenisnya. Tak jarang si anak menanyakan terlebih dahulu saat ingin membuang sampah. Kebiasaan tersebut akan semakin menumbuhkan sikap anak dalam menjaga lingkungan khususnya tempat tinggal mereka.

Ibu Nia, warga RW 7 Cihaurgeulis Bandung
Beliau memulai program pemilahan sampah di rumahnya semenjak program tersebut diadakan di RW 07 Cihaurgeulis pertengahan tahun lalu. Beliau menyambut hangat program tersebut karena menurut beliau program ini menambah ilmu dan memiliki banyak manfaat, selain menjadikan lingkungan bersih, beliau juga merasakan bahwa program pemilahan dari rumah ini bermanfaat untuk para warga.

Ibu Nia mengatakan bahwa sampah yang kita buang dapat dimanfaatkan kembali dan diolah sehingga mengurangi tumpukan sampah. Selain itu, pemilahan sampah mengurangi bau yang dihasilkan oleh sampah sehingga beliau tidak khawatir ketika sampah telat diambil dari rumah.

Tak hanya di dalam keluarganya saja, beliau juga ikut terlibat dalam program pemilahan sampah di masyarakat. Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua PKK, dukungan beliau terhadap program pemilahan sampah ini semakin besar. Beliau ikut berperan dalam memantau para warga untuk memastikan pemilahan di wilayah beliau berjalan dengan baik. Pada suatu waktu, beliau merasa bahwa sampah yang dibuang ke TPS semakin banyak sehingga beliau melakukan edukasi ulang agar warga bersemangat kembali melakukan pemilahan.

Jerih payah beliau membuahkan hasil, persentase pemilahan yang sempat menurun hingga 40% meningkat kembali menjadi sekitar 70%. Untuk mendukung program pemilihan ini, beliau juga memberikan fasilitas untuk beberapa warga berupa tempat untuk menyimpan sampah serta merawat fasilitas pengolahan sampah organik di lingkungan beliau.





Nia dan para anggota PKK saling menasehati dan mengingatkan para warga untuk melakukan kegiatan pemilahan sampah dari rumah, karena menurut beliau program ini harus didasari akan kesadaran dari masing-masing dan kepedulian pada lingkungan tempat tinggal dengan saling memiliki antar warga.