Welcome to our website !


PLASTIK PLASTIK PLASTIK?

Saat ini plastik sekali pakai adalah bahan yang paling banyak digunakan untuk mengemas makanan. Kemasan plastik sering digunakan karena dianggap dapat memperpanjang masa simpan makanan. Namun, data pendukung anggapan tersebut sebenarnya kurang kuat dan mengabaikan akibat setelah kemasan tersebut tidak digunakan lagi.

Fenomena penggunaan plastik pun bukan terjadi pada kemasan makanan saja. Alat makan atau pendukung yang ditawarkan oleh berbagai produk pun didesain sekali pakai. Anda pernah mendapatkan fasilitas di tempat makan berupa sendok, sedotan, gelas, sumpit dkk yang sekali pakai bukan? 

Keseruan isu dari kemasan ini ditambah lagi dengan kemasan yang "boros"! Kemasan sampai berlapis-lapis. Ada pula beberapa produk yang dikelompokkan dan kemudian dikemas jadi 1 paket. Padahal sesungguhnya mungkin konsumen hanya butuh 1 jenis barang saja. Kemasan kecil atau sachet pun saat ini marak! Kemasan sachaet apalagi yang berwarna-warni diperkirakan memiliki potensi daur ulang nol. Jual beli online dan layanan pesan antar makanan pun dapat meningkatkan jumlah kemasan yang digunakan.


Tahun 2018 ini, hari bumi mengangkat tema Ending Plastic Pollution. Dalam rangka memperingatinya, YPBB mengajak anda semua untuk mengangkat fenomena penggunaan plastik kemasan yang semakin marak saat ini. Sekaligus juga mengangkat upaya solusi pengurangan yang telah ada.



Bagaimana caranya?


  • Follower instagram @ypbbbandung diajak untuk memposting 2 foto (dalam 1 postingan). Satu foto berupa masalah kemasan yang pernah ditemui. Satu foto berupa solusi berkaitan dengan masalah yang ada di foto pertama. Kedua foto wajib hasil karya follower.
  • Di postingan tersebut: 
    • dapat men-tag produsen produk terkait (tidak wajib)
    • wajib men-tag 2 akun untuk diajak mengikuti kegiatan
    • wajib menyertakan hastag #masalahVSsolusi #BreakFreeFromPlastic #GoForZeroWaste #earthday2018
    • wajib follow dan mention akun instagram @ypbbbandung
  • Peserta wajib meregram poster lomba dan aturan mainnya
  • Postingan dibuat maksimal 1 hari 1 kali selama durasi kegiatan
  • Durasi kegiatan: 21-27 April 2018. 

Hadiah menarik menanti anda!

  • Setiap harinya akan ada 1 foto terbaik yang di-regram oleh akun YPBB
  • Tersedia 2 hadiah paket kit Zero Waste bagi 2 postingan terbaik selama periode kegiatan.
  • Paket akan dikirim ke alamat pemenang yang berada di negara Indonesia.


Tunggu apa lagi? Yuk, IKUT POSTING 2 FOTO #masalahVSsolusi kemasan!
Saat ini, kebanyakan warga kota Bandung membuang sampah dengan cara merekrut petugas pengumpul sampah melalui Rukun Warga (RW) dengan gaji yang kecil (di bawah upah minimum regional). Petugas ini akan mengumpulkan apapun yang dibuang oleh warga dan membawanya ke TPS yang dikelola oleh Pemerintah Kota. Dalam program Zero Waste Cities pendekatan yang dilakukan adalah ingin mengedepankan peran pemerintah di tingkat paling bawah, dalam hal ini Kelurahan, sebagai pemimpin dalam penerapan sistem pengelolaan sampah di kelurahan. Hal ini tentu membutuhkan waktu dan tahapan-tahapan untuk menempatkan setiap pihak dalam posisinya masing-masing dan mendorong setiap pihak untuk menjalankan apa yang menjadi perannya.

Dengan kondisi yang ada saat ini, tim Zero Waste Cities bekerja sama dengan pihak RW (beserta perwakilan warga) dan petugas pengumpul sampah untuk mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah di kawasan RW.

Peran yang diambil oleh petugas pengumpul sampah sangat penting. Mereka mengalami perubahan cara kerja. Sebelumnya mereka hanya mengambil sampah tercampur dari rumah dan mengangkutnya ke TPS, sekarang petugas diajak untuk melakukan pengumpulan sampah terpilah. Jangan sampai, sampah yang telah dipilah oleh warga dicampur kembali tapi perlu diletakkan pada wadah yang sesuai

Proses pemilahan yang dilakukan oleh setiap warga dalam program Zero Waste Cities

Petugas sampah juga dilibatkan sebagai operator untuk kegiatan pengomposan. Lubang pengomposan, biodigester, biopori dan bata terawang adalah beberapa cara pengomposan komunal yang digunakan di kawasan RW. Peran sebagai operator pengomposan diharapkan dapat menjadi bagian dari rutinitas kerja pasca pengumpulan.

Bekerja dengan sampah, tidak harus identik dengan kotor dan penyakit. Salah satu target tersirat dalam Zero Waste Cities adalah meningkatkan kualitas hidup petugas pengumpul. Pencucian wadah pengumpulan sampah yang telah selesai digunakan juga menjadi kegiatan yang rutin dilakukan oleh mereka. Wadah dengan kotoran menumpuk akhirnya tetap mengundang lalat, mikroorganisme penyebab penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan petugas.

Ajang, petugas pengumpul sampah RW 9 Sukaluyu

Ajang alias Tatang Suhardiman telah 18 tahun bekerja sebagai petugas pengumpul sampah di RW 9 Kelurahan Sukaluyu, Kota Bandung. Menurut pengakuannya, setelah sekitar 1 tahun ini menjalankan pengumpulan secara terpilah, baju lebih bersih dan tidak sebau dulu. Hal sederhana semacam ini tentunya menjadi penting bagi Ajang yang setiap harinya menempuh jarak sekitar 8 KM menggunakan angkot saat pulang menuju rumahnya di daerah Pasir Impun.

Ajang pun saat ini telah terampil menjadi operator berbagai sarana pengomposan. Berulang kali RW 9 Sukaluyu menjadi daerah kunjungan model pengelolaan sampah terpilah di kawasan, menjadikan Ajang sering bertemu dengan orang-orang baru. Ini menjadi pengalaman baru buatnya walaupun dia merasa kaweur (tidak bisa tenang) dan geumpeur (gugup) saat terjadi kunjungan tersebut.


Entis,petugas pengumpul sampah RW 7 Neglasari
Lain lagi cerita yang dialami oleh Entis Sutisna. Entis baru sekitar 2 bulan menerapkan sistem pengumpulan sampah terpilah di RW 7 Kelurahan Neglasari. Komunikatif. Itu satu kesan yang cepat ditangkap saat bertemu dengan petugas pengumpul sampah ini. Saat keliling untuk mengambil sampah warga, dia tak segan untuk mengingatkan warga agar rutin memilah. "Minimal sampah organisnya aja terpilah", itu pesan yang selalu dia ulang-ulang ke warga.

Selain komunikatif, rasa keingintahuan Entis cukup besar. Entis pernah dimotivasi tim Zero Waste Cities untuk tetap konsisten menjalankan proses ini karena akan mengurangi sampah yang perlu diangkut ke TPS. Rasa keingintahuannya yang besar mendorong Entis untuk bereksperimen mengujicoba “teori” tersebut. Seluruh sampah (baik yang berasal dari rumah terpilah maupun yang belum terpilah) dipisahkan selama 5 hari, dikomposkan organisnya, dijual yang masih bisa didaur ulang dan terbukti jumlah sampah yang perlu diangkut memang berkurang. Eksperimen tersebut dilakukan tanpa diminta oleh siapapun.

Dalam kondisi saat ini, inisiatif warga (ketua RW, kader dan warga) menjadi faktor penentu untuk keberjalanan penerapan pengelolaan sampah terpilah di kawasan. Selain warga, peran petugas yang dijalankan oleh Entis, Ajang dan petugas sampah lainnya menjadi penting untuk menunjang proses pembentukan kebiasaan baru warga.

Tahun 2017 ini YPBB kembali mengadakan Training of Trainers (ToT) Zero Waste Lifestyle dalam rangka menyiapkan para trainer untuk dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat melalui kegiatan pelatihan. ToT diselenggarakan selama 2 hari di dua tempat yang berbeda. ToT H1 3 Juni 2017 diselenggarakan di Aula Kelurahan Sukaluyu, dan ToT H2 4 Juni 2017 diselenggarakan di SMKN 5 Bandung. Lihat foto-foto kegiatannya disini dan disini, hasil jepretan dari relawan setia YPBB Irvan Santoso & Melati Fitriani. :)

Peserta ToT ZWL YPBB 2017 (doc. YPBB)

Para trainer diajarkan bagiamana caranya untuk dapat menyampaikan materi training Zero Waste Lifestyle  dengan benar sehingga dapat menyampaikan paradigma yang benar pula mengenai persoalan persampahan yang umum terjadi di masyarakat. Harapannya, tujuan pelatihan dapat tercapai dan dapat sungguh-sungguh memberikan solusi permasalahan sampah kepada para peserta training. ToT yang diikuti oleh sekitar 25 peserta ini di fasilitasi oleh 2 orang fasilitator dari YPBB yaitu Anilawati Nurwakhidin & Melly Amalia, serta 1 orang Trainer Senior YPBB yaitu Rikrik Sunaryadi. Simak tulisan lengkapnya dari Relawan Reporter Muhamad Taupik, disini.

ToT ZWL 2017, H1 (doc. YPBB)

Follow terus socmed YPBB yaa untuk update kegiatan-kegiatan YPBB lainnya
Facebook: YPBB Bandung
Twitter: @ypbbbdg
Instagram: ypbbbandung

Salam Organis! :)



Peluang khusus untuk bergabung menjadi Relawan Trainer YPBB kembali dibuka!

YPBB percaya bahwa upaya penyelamatan lingkungan dan keberlanjutan bumi bisa berhasil bila seluas-luasnya masyarakat ikut terlibat. Salah satu upaya strategis YPBB dalam mengembangkan kampanye pola hidup organis (selaras alam) yaitu melalui jalur edukasi lewat pelatihan-pelatihan. Pelatihan Zero Waste Lifestyle adalah salah satu layanan yang dikembangkan YPBB untuk masyarakat Bandung dan sekitarnya, untuk membantu melepaskan diri dari persoalan sampah tanpa merugikan orang lain dan/atau menimbulkan kerusakan lingkungan di masa mendatang. YPBB membuka ruang agar masyarakat dapat mengambil peran utama dalam pelatihan-pelatihan tersebut melalui Program Trainer YPBB.

Dengan menjadi relawan Trainer YPBB, Anda menjadi basis kampanye YPBB yang memiliki standar kualitas tinggi. YPBB mengembangkan berbagai sistem agar Anda dapat fokus pada peran utama Anda sebagai trainer. YPBB menata panggungnya, Anda yang jadi bintangnya.

Anda dapat menjadi bagian dari tim relawan trainer YPBB, jika…
1.    Punya kepedulian tentang lingkungan, khususnya isu sampah.
2.    Suka berbagi pengalaman dan pengetahuan pada orang lain.
3.    Punya kemampuan dasar public speaking (tidak mudah demam panggung).
4.   Bersedia mengikuti kegiatan ToT (Training of Trainer) pada tanggal 3 & 4 Juni 2017.
5.    Punya waktu luang yang ingin digunakan.
6.    Berdomisili di Bandung minimal untuk 1,5 tahun ke depan.

Untuk menjadi trainer YPBB, ada serangkaian proses yang perlu Anda ikuti. YPBB mengembangkan sistem fasilitasi yang menyeluruh untuk membantu Anda melihat dan merasakan langsung, bagaimana menjadi seorang trainer YPBB. Berdasarkan pengalaman itu, Anda bisa memutuskan, apakah menjadi trainer adalah sesuatu yang menyenangkan, efektif, dan bermakna bagi Anda, atau tidak.

Untuk mendapatkan gambaran seputar Program Trainer YPBB, proses dan tahapan menjadi Trainer YPBB, silakan baca Kerangka Program Trainer YPBB.

Untuk mengikuti serangkaian prosesnya, Anda mungkin perlu menyediakan waktu sekitar 5 – 7 jam per bulan. Waktu tersebut meliputi berbagai waktu untuk persiapan pelatihan dan evaluasi.
 
Testimoni relawan Trainer YPBB
 (Testimoni salah seorang relawan terkait pengalamannya sebagai Trainer YPBB)

Yuk bergabung menjadi relawan Trainer YPBB!
Caranya?
Isi form pendaftaran di:  http://bit.ly/PendaftaranTrainer2017
Pendaftaran ditutup pada Minggu, 28 Mei 2017 pukul 24.00.
Pengumuman peserta ToT (Training of Trainer) terpilih akan diinfokan pada 30 Mei 2017 maks. Pukul 17.00 melalui email.

Kegiatan ToT akan dilaksanakan selama 2 hari
H1: 3 Juni 2017 (08.00-maks.16.00)
H2: 4 Juni 2017 (08.00-14.00)
Tempat: *akan diinfokan kemudian.

Pertanyaan lebih lanjut dapat diajukan ke alamat email trainer@ypbb.or.id, atau ke nomor telpon 0856-2480-5640​⁠ (Euis).

Dalam UU 18/2008 tentang pengelolaan sampah, sudah mengamanatkan penanganan sampah haruslah menjalankan prinsip pengurangan sejak dari sumbernya. Salah satu konsekuensinya adalah, kebergantungan pada TPA perlu dikurangi secepatnya dengan program pengurangan dan pengolahan sampah di sumber. Oleh karena itu PP 81/2012 mengedepankan peran pengelola-pengelola kawasan untuk menjalankan sebanyak mungkin urusan pengelolaan sampah.
Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menerapkan pendekatan penanganan sampah secara berwawasan lingkungan di kawasan-kawasan permukiman, yang merupakan sumber sampah terbesar di kawasan perkotaan. Berbagai upaya telah dilakukan dalam 20 tahun terakhir namun umumnya gagal menghasilkan sistem pengelolaan yang berkelanjutan.
Mother Earth Foundation (MEF) adalah Lembaga nirlaba dari Philipina yang sudah berhasil mewujudkan pengelolaan Sampah dengan prinsip Sustainable Solid Waste Management ini di setidaknya 244 kelurahan dari 4 kota besar dan 15 kota kecil di Philipina, sebuah negara tetangga dengan permasalahan sampah yang serupa dengan negara kita.


Perkumpulan YPBB melalui proyek Asia Pacific Action Against Plastic Pollution: Reducing land-based leakage of plastic waste in Philippines & Indonesia through zero waste systems and product redesign, dibawah supervisi MEF akan mengembangkan model pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan di kawasan pemukiman. Diharapkan program ini dapat menyelesaikan persoalan kebocoran plastik di perairan, khususnya sungai dan laut. Lembaga yang bekerjasama : Mother Earth Foundation, YPBB, GAIA, UPSTREAM, Story of Stuff Project, and The Lonely Whale.


Melalui Program Kawasan Bebas Sampah (KBS) yang diinisiasi oleh DLH Kota Bandung, mulai Oktober 2016 YPBB bekerja sama dengan Mother Earth Foundation (MEF) Pilipina mengembangkan model kawasan bebas sampah yang mempunyai sistem pengelolaan sampah terpadu dan terdesentralisasi, serta dapat berjalan secara berkelanjutan. Pengembangan inisiatif ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang dikembangkan oleh MEF Philipina. Di Indonesia, program ini akan dilakukan selama 2 tahun, dengan intensif waktu selama 6-9 bulan yang akan dilaksanakan di 2 kelurahan dan 2 kecamatan di Kota Bandung.


Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Perkumpulan YPBB bekerja sama dengan PD Kebersihan Kota Bandung dan Kelurahan Babakan Sari, mulai menjalankan program KBS di Kelurahan Babakan Sari sejak bulan Maret 2017.  Tahapan kegiatan dimulai dari melakukan riset baseline data/kajian kondisi kelurahan, konsultasi dengan RW dan stakeholder, pembentukan ‘Dewan’ Pengelola Sampah Kelurahan, pengembangan desain sistem pengelolaan sampah skala kawasan, program kerja 10 tahun dan regulasi, pelatihan untuk petugas, edukasi door to door, ujicoba dan perbaikan sistem, penerapan secara penuh di seluruh kawasan dan terakhir monitoring dan penegakan hukum.


Untuk tahapan awal kegiatan, saat ini sedang dilaksanakan kegiatan Riset Baseline Data berupa penyebaran kuisioner ke warga tentang persepsi dan praktek pengolahan sampah yang selama ini terjadi (416 responden) dan pengukuran karakteristik dan timbulan sampah (68 responden). Responden dipilih secara acak yang berasal dari warga RW 1 - RW 18 se-Kelurahan Babakan Sari.


Targetnya adalah pengurangan jumlah sampah yang diangkut ke TPS/TPA sebanyak 70% dalam 2 tahun melalui pemisahan sampah dari sumber dan metode pengomposan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah, serta meningkatnya partisipasi warga dalam mengelola sampah baik skala rumah tinggal dan komunal melalui ketaatan pemilahan mulai dari sumber.  Sehingga bisa mencegah masuknya 62.000 ton sampah (14.000 plastik) per tahun ke sungai atau laut.


Tujuan Spesifik program ini adalah 1) membuat model pengelolaan sampah yang mempunyai sistem pengelolaan sampah terpadu dan terdesentralisasi yang dapat berjalan berkelanjutan, 2)para pihak (pemerintah, masyarakat, pelaku usaha) mempunyai paradigma dan kemampuan pengelolaan yang tepat tentang prinsip-prinsip yang sesuai dengan UU 18/2008, 3) Pengembangan model peran kewilayahan dalam pengelolaan sampah dan replikasi model di Filipina.





Untuk memperluas keingintahuan khalayak tentang program ini, rencananya akan ada ekspose kegiatan program ‘Babakan Sari Menuju Kawasan Bebas Sampah’, pada :
Hari/Tanggal          : Rabu, tanggal 5 April 2017
Pukul                       : 09.00 – 10.30 WIB
Lokasi                     :   Ruang Pertemuan Kantor Kelurahan Babakan Sari, jalan Kampus IV, Babakan Sari, Kiara Condong dan TPST Babakan Sari
Acara                 : 1.  Pemaparan program KBS (David Sutasurya – Direktur Eksekutif  Perkumpulan YPBB
   2.  Tour ke TPST melihat proses pemilahan sampah


Harapan besar kami, dengan adanya pengembangan model Kawasan Bebas Sampah yang mempunyai sistem pengelolaan sampah terpadu, desentralisasi, dan berkelanjutan, bisa menjadi salah satu solusi tepat untuk menyelesaikan permasalahan sampah.


Media Kontak :
Perkumpulan YPBB
Ratna Ayu Wulandari - 0813 8037 6546

Anilawati Nurwakhidin - 0813 2037 5404

Dua hari berturut-turut, tim trainer YPBB merasakan kobaran semangat baru di 2 pelatihan Zero Waste Lifestyle. Pelatihan yang pertama berlangsung di SMK 5 Bandung pada tanggal 25 Februari 2017. Pelatihan yang terselenggara atas kerjasama YPBB dengan FK3I ini diikuti oleh siswa-siswi dari beberapa SMK di Bandung. Foto kegiatan lebih lengkap silakan tengok di sini

Foto: Alfian Widiantono

Kobaran semangat kedua didapatkan dari para pemuda di area Kelurahan Campaka Kota Bandung. Semangat tersebut difasilitasi oleh ICDC untuk menjadikannya sebagai karya nyata bagi perubahan di area tersebut. Pelatihan di hari libur ini, yaitu pada hari Minggu 26 Februari 2017, dihadiri pemuda dari berbagai RT dan diselenggarakan di balai RW. Cerita lengkap tentang pelatihan tersebut ditulis oleh Irvan Santosa di sini


Foto: Bayu Rakhmatullah

Kedua pelatihan tersebut membawa semangat yang sama yaitu semangat untuk berbuat langsung dari rumah. Untuk kurangi sampah dari rumah sampai 70% hanya butuh 2 langkah sederhana saja! Penasaran? Yuk adakan juga pelatihan sejenis di komunitas anda! Simak info detilnya di sini.


Foto: Irvan Santosa