Welcome to our website !

Peran Penting Petugas Pengumpul Sampah dalam Zero Waste Cities

By 10:55 AM

Saat ini, kebanyakan warga kota Bandung membuang sampah dengan cara merekrut petugas pengumpul sampah melalui Rukun Warga (RW) dengan gaji yang kecil (di bawah upah minimum regional). Petugas ini akan mengumpulkan apapun yang dibuang oleh warga dan membawanya ke TPS yang dikelola oleh Pemerintah Kota. Dalam program Zero Waste Cities pendekatan yang dilakukan adalah ingin mengedepankan peran pemerintah di tingkat paling bawah, dalam hal ini Kelurahan, sebagai pemimpin dalam penerapan sistem pengelolaan sampah di kelurahan. Hal ini tentu membutuhkan waktu dan tahapan-tahapan untuk menempatkan setiap pihak dalam posisinya masing-masing dan mendorong setiap pihak untuk menjalankan apa yang menjadi perannya.

Dengan kondisi yang ada saat ini, tim Zero Waste Cities bekerja sama dengan pihak RW (beserta perwakilan warga) dan petugas pengumpul sampah untuk mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah di kawasan RW.

Peran yang diambil oleh petugas pengumpul sampah sangat penting. Mereka mengalami perubahan cara kerja. Sebelumnya mereka hanya mengambil sampah tercampur dari rumah dan mengangkutnya ke TPS, sekarang petugas diajak untuk melakukan pengumpulan sampah terpilah. Jangan sampai, sampah yang telah dipilah oleh warga dicampur kembali tapi perlu diletakkan pada wadah yang sesuai

Proses pemilahan yang dilakukan oleh setiap warga dalam program Zero Waste Cities

Petugas sampah juga dilibatkan sebagai operator untuk kegiatan pengomposan. Lubang pengomposan, biodigester, biopori dan bata terawang adalah beberapa cara pengomposan komunal yang digunakan di kawasan RW. Peran sebagai operator pengomposan diharapkan dapat menjadi bagian dari rutinitas kerja pasca pengumpulan.

Bekerja dengan sampah, tidak harus identik dengan kotor dan penyakit. Salah satu target tersirat dalam Zero Waste Cities adalah meningkatkan kualitas hidup petugas pengumpul. Pencucian wadah pengumpulan sampah yang telah selesai digunakan juga menjadi kegiatan yang rutin dilakukan oleh mereka. Wadah dengan kotoran menumpuk akhirnya tetap mengundang lalat, mikroorganisme penyebab penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan petugas.

Ajang, petugas pengumpul sampah RW 9 Sukaluyu

Ajang alias Tatang Suhardiman telah 18 tahun bekerja sebagai petugas pengumpul sampah di RW 9 Kelurahan Sukaluyu, Kota Bandung. Menurut pengakuannya, setelah sekitar 1 tahun ini menjalankan pengumpulan secara terpilah, baju lebih bersih dan tidak sebau dulu. Hal sederhana semacam ini tentunya menjadi penting bagi Ajang yang setiap harinya menempuh jarak sekitar 8 KM menggunakan angkot saat pulang menuju rumahnya di daerah Pasir Impun.

Ajang pun saat ini telah terampil menjadi operator berbagai sarana pengomposan. Berulang kali RW 9 Sukaluyu menjadi daerah kunjungan model pengelolaan sampah terpilah di kawasan, menjadikan Ajang sering bertemu dengan orang-orang baru. Ini menjadi pengalaman baru buatnya walaupun dia merasa kaweur (tidak bisa tenang) dan geumpeur (gugup) saat terjadi kunjungan tersebut.


Entis,petugas pengumpul sampah RW 7 Neglasari
Lain lagi cerita yang dialami oleh Entis Sutisna. Entis baru sekitar 2 bulan menerapkan sistem pengumpulan sampah terpilah di RW 7 Kelurahan Neglasari. Komunikatif. Itu satu kesan yang cepat ditangkap saat bertemu dengan petugas pengumpul sampah ini. Saat keliling untuk mengambil sampah warga, dia tak segan untuk mengingatkan warga agar rutin memilah. "Minimal sampah organisnya aja terpilah", itu pesan yang selalu dia ulang-ulang ke warga.

Selain komunikatif, rasa keingintahuan Entis cukup besar. Entis pernah dimotivasi tim Zero Waste Cities untuk tetap konsisten menjalankan proses ini karena akan mengurangi sampah yang perlu diangkut ke TPS. Rasa keingintahuannya yang besar mendorong Entis untuk bereksperimen mengujicoba “teori” tersebut. Seluruh sampah (baik yang berasal dari rumah terpilah maupun yang belum terpilah) dipisahkan selama 5 hari, dikomposkan organisnya, dijual yang masih bisa didaur ulang dan terbukti jumlah sampah yang perlu diangkut memang berkurang. Eksperimen tersebut dilakukan tanpa diminta oleh siapapun.

Dalam kondisi saat ini, inisiatif warga (ketua RW, kader dan warga) menjadi faktor penentu untuk keberjalanan penerapan pengelolaan sampah terpilah di kawasan. Selain warga, peran petugas yang dijalankan oleh Entis, Ajang dan petugas sampah lainnya menjadi penting untuk menunjang proses pembentukan kebiasaan baru warga.

You Might Also Like

0 komentar